Selain harus menghadapi arus sungai yang deras, warga juga harus berhati-hati saat naik dan turun sampan karena kondisi bibir tanggul yang licin. Situasi ini membuat aktivitas sehari-hari menjadi berisiko, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Ngamuri berharap pemerintah segera turun tangan dengan membangun jembatan darurat agar aktivitas warga kembali normal.
“Harapannya segera ada jembatan darurat. Kasihan warga yang kerja dan anak-anak sekolah kalau harus seperti ini terus,” keluhnya.
Keluhan serupa juga dirasakan Aji Mas Pratama, siswa MI Kali Wihaya Mangkang Wetan. Meski mengaku tidak takut menyeberang sungai menggunakan sampan, Aji sering harus mengantre bersama teman-temannya sehingga berangkat sekolah menjadi terlambat.
“Enggak takut, tapi harus antre jadi sering telat berangkat. Pengen ada jembatan lagi biar enggak susah dan enggak telat sekolah,” ucap Aji.
Hingga kini, warga Tambaksari masih menanti kepastian dari pemerintah. Di tengah keterbatasan, mereka bertahan dengan semangat gotong royong, sembari berharap akses aman dan layak segera kembali hadir di kampung mereka. (*)
Editor: Elly Amaliyah





