Peristiwa

Dua Pekan Akses Putus Akibat Jembatan Roboh, Warga Mangkang Wetan Bertaruh Nyali Seberangi Sungai

×

Dua Pekan Akses Putus Akibat Jembatan Roboh, Warga Mangkang Wetan Bertaruh Nyali Seberangi Sungai

Sebarkan artikel ini
Dua Pekan Akses Putus Akibat Jembatan Roboh, Warga Mangkang Wetan Bertaruh Nyali Seberangi Sungai
Anak-anak sekolah harus menyeberangi sungai untuk pulang pergi sekolah lantaran akses penghubung jembatan yang kerap mereka lewati roboh. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Dua pekan warga RW 7 Tambaksari, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, hidup dalam keterbatasan akses setelah jembatan utama yang menghubungkan kampung mereka roboh.

Hingga kini, belum ada kepastian pembangunan jembatan darurat, membuat aktivitas harian warga bergantung pada sampan sederhana untuk menyeberangi Sungai Beringin.

Jembatan tersebut roboh pada Kamis, 15 Januari 2026 lalu. Padahal, infrastruktur itu menjadi satu-satunya jalur penghubung warga menuju Kelurahan Mangunharjo maupun akses ke jalan utama. Sejak kejadian itu, warga praktis terisolasi dan harus beradaptasi dengan kondisi darurat.

Di sisi utara sungai, warga menggunakan perahu seadanya. Sementara di sisi selatan, tepat di tengah permukiman, warga membuat sampan kecil dari bahan-bahan sederhana seperti jeriken bekas, gabus, bambu, dan papan kayu.

“Yang di sisi selatan ini posisinya di tengah kampung, jadi warga sering pakai sampan untuk menyeberang,” ujar Ngamuri, warga setempat, saat ditemui di lokasi.

Ngamuri menjelaskan, sampan tersebut dibuat dan dioperasikan secara swadaya melalui gotong royong warga. Penjagaan dan pengoperasian dilakukan bergantian agar akses warga tetap terbuka.

“Kami jaga gantian. Ini murni inisiatif warga supaya tidak muter terlalu jauh. Tidak ada tarif, seikhlasnya saja untuk perawatan gethek,” katanya.

Aktivitas penyeberangan paling padat terjadi pada pagi hari, terutama saat anak-anak berangkat sekolah dan warga mulai bekerja. Kepadatan kembali terjadi pada siang hingga sore hari saat jam pulang sekolah.

“Ramainya mulai sekitar pukul 05.30 sampai 07.00 pagi. Sekali narik bisa enam anak sekolah. Kalau orang dewasa biasanya tiga orang,” jelas Ngamuri.

Namun, penggunaan sampan sangat bergantung pada kondisi cuaca dan tinggi permukaan air sungai. Saat debit air Sungai Beringin meningkat, warga memilih tidak menyeberang karena khawatir terbawa arus.

BACA JUGA: Warga Mangkang Wetan Terisolir Akibat Jembatan Roboh, Dewan Desak Segera Dibangun

“Kalau hujan biasa masih bisa, tapi kalau air sungai naik, ya warga was-was dan tidak berani menyeberang,” ungkapnya.

Selain harus menghadapi arus sungai yang deras, warga juga harus berhati-hati saat naik dan turun sampan karena kondisi bibir tanggul yang licin. Situasi ini membuat aktivitas sehari-hari menjadi berisiko, terutama bagi anak-anak dan lansia.

Ngamuri berharap pemerintah segera turun tangan dengan membangun jembatan darurat agar aktivitas warga kembali normal.

“Harapannya segera ada jembatan darurat. Kasihan warga yang kerja dan anak-anak sekolah kalau harus seperti ini terus,” keluhnya.

Keluhan serupa juga dirasakan Aji Mas Pratama, siswa MI Kali Wihaya Mangkang Wetan. Meski mengaku tidak takut menyeberang sungai menggunakan sampan, Aji sering harus mengantre bersama teman-temannya sehingga berangkat sekolah menjadi terlambat.

“Enggak takut, tapi harus antre jadi sering telat berangkat. Pengen ada jembatan lagi biar enggak susah dan enggak telat sekolah,” ucap Aji.

Hingga kini, warga Tambaksari masih menanti kepastian dari pemerintah. Di tengah keterbatasan, mereka bertahan dengan semangat gotong royong, sembari berharap akses aman dan layak segera kembali hadir di kampung mereka. (*)

 

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp