“Ini lomba dengan tema Deux Cultures, Mille Saveurs, dua budaya dengan beragam rasa. Peserta menggabungkan teknik memasak Prancis dengan makanan khas Indonesia seperti rendang, bumbu merah, dan bumbu kuning,” ujar Regan.
Menurut Regan, lomba tersebut melibatkan enam tim yang berasal dari sejumlah sekolah dan perguruan tinggi. Mereka antara lain berasal dari SMP Domenico Savio, SMAN 1 Jepara, SMAN 1 Semarang, serta sejumlah perguruan tinggi.
“Total ada enam peserta sekolah dengan 12 peserta. Menunya merupakan perpaduan Indonesia dan Prancis dengan mengangkat di versifikasi pangan lokal,” katanya.
Regan mengatakan juri tidak hanya menilai tampilan makanan. Kreativitas peserta memang menjadi salah satu pertimbangan, tetapi rasa tetap menjadi faktor penting dalam menentukan pemenang.
“Kriteria pemenang tidak hanya kreativitas atau penataan yang membuat makanan terlihat menggugah selera. Rasa juga paling penting dari sebuah hidangan,” ujarnya.
Hasilnya, AKS Ibu Kartini keluar sebagai juara pertama. Universitas Negeri Semarang (Unnes) menempati posisi kedua, sedangkan SMAN 1 Jepara meraih juara ketiga.
Regan menilai hidangan AKS Ibu Kartini memiliki karakter kuat dalam menerjemahkan konsep perpaduan kuliner Indonesia dan Prancis.
Peserta mampu mempertahankan identitas rasa Indonesia sekaligus memasukkan teknik pengolahan ala Prancis.
“Keistimewaan hidangan AKS Ibu Kartini adalah mereka sangat menonjolkan makanan Prancis yang berpadu dengan bumbu rendang. Terlihat sekali fusion antara Indonesia dengan teknik memasak Prancis,” kata Regan. (*)





