Ia menambahkan, program MBG di SMKN 11 Semarang sudah berjalan sejak Agustus 2025 dan baru kali ini terjadi kejadian serupa. Hingga saat ini, laporan gejala hanya berasal dari satu sekolah, meski SPPG yang sama dugaan kuat menyuplai lebih dari satu sekolah.
Sementara itu Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Syamsudin, menyatakan pihaknya telah melakukan koordinasi awal terkait laporan dugaan keracunan yang melibatkan siswa penerima layanan SPPG. Saat ini, pihaknya masih berada pada tahap pengumpulan informasi untuk memastikan kronologi dan kondisi di lapangan.
“Sudah, saya sudah konfirmasi. Ini masih tahap mencari informasi, dan kami sudah melakukan koordinasi,” ujar Syamsudin.
Ia menjelaskan, pihaknya juga telah menyiapkan mekanisme pelaporan dan pemantauan di masing-masing wilayah yang memiliki layanan SPPG. Langkah tersebut untuk memastikan kejadian serupa tidak meluas dan dapat segera ada penanganan apabila ada indikasi masalah.
BACA JUGA: Dukung MBG, Pemkab Blora Dorong Petani Melon Hidroponik Lokal Pasok SPPG
Terkait kemungkinan adanya laporan dari orang tua siswa, Syamsudin menegaskan bahwa hal tersebut merupakan hak setiap wali murid. Namun demikian, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng tetap mengedepankan langkah pengawalan dan koordinasi terlebih dahulu antara sekolah dan penyedia layanan SPPG.
“Itu hak masing-masing orang tua. Tapi tetap akan kami kawal terlebih dahulu, dan untuk sekolah serta SPPG-nya akan kami koordinasikan,” tegasnya.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng memastikan akan terus mengawal proses evaluasi dan memastikan keamanan serta kualitas makanan sebelum program MBG kembali berlanjut. (*)
Editor: Farah Nazila





