
SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Indonesia memiliki prioritas dalam kebijakan energi bersih terbarukan untuk menggunakan energi yang lebih bersih, minim emisi, dan ramah lingkungan.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT), yang ditargetkan mencapai 23 persen pada tahun 2025 dalam kebijakan energi nasional.
Penggunaan EBT dalam bauran energi nasional mengalami peningkatan dalam 5 tahun terakhir, terutama pada tahun 2022, mencapai sekitar 12,3 persen.
Meskipun terjadi peningkatan, angka ini masih di bawah target 23 persen. Oleh karena itu, perlu upaya yang lebih besar untuk mencapai target tersebut pada tahun 2025.
Selain itu, Indonesia juga memiliki target untuk menurunkan emisi pada tahun 2030, dengan target awal sebesar 29 persen yang ditingkatkan menjadi 31,9 persen dengan usaha sendiri dan 43,2 persen dengan dukungan internasional.
Sektor energi merupakan salah satu sektor dengan emisi terbesar setelah sektor kehutanan. Pemerintah memiliki target untuk menurunkan emisi sebesar 358 juta ton CO2 pada tahun 2030 dan menuju net zero emission (NZE) pada tahun 2060 dengan upaya sendiri, bahkan lebih cepat dengan dukungan internasional.
Quick Wins Energi Bersih Terbarukan
Pemanfaatan EBT menjadi program utama untuk mencapai target jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Selain itu, perlu adanya program lain seperti mendorong penggunaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV), mandatory biofuel, dan penerapan energi efisiensi.
Sebagai Ketua ASEAN tahun 2023, Indonesia memiliki peran penting dalam mendorong agenda strategis yang menguntungkan Indonesia.
Pada pertemuan Menteri Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community Council/AECC) ke-22 pada Mei 2023, ada kesepakatan dua dokumen inisiatif Indonesia untuk diadopsi dalam KTT ASEAN ke-42. Salah satunya adalah Deklarasi Pemimpin ASEAN tentang Pengembangan Ekosistem Kendaraan Listrik Regional.
Presiden Jokowi menyatakan ASEAN sepakat untuk membangun ekosistem kendaraan listrik dan menjadi bagian penting dari rantai pasok dunia. Indonesia memiliki potensi sebagai produsen kendaraan listrik dengan estimasi pasar mencapai 2,7 miliar dolar AS pada 2027.
Untuk mencapai target-target tersebut, perlu kerja sama dan kolaborasi antara negara-negara ASEAN, pengembangan teknologi bersih, dan dukungan pendanaan dari negara maju dan institusi finansial global.
Indonesia juga dapat memainkan peran dalam memperkuat resiliensi terhadap perubahan iklim melalui pembangunan berkelanjutan. Harapannya, Indonesia dapat memberi ruang kepada masyarakat sipil di ASEAN agar terlibat dalam proses pengambilan keputusan di regional.
Melalui Keketuaan ASEAN 2023, Indonesia dapat mewujudkan penggunaan energi bersih. Tentunya perlu ada sinergi antara pemerintah dan stakeholder agar EBT terselesaikan sesegera mungkin (ant).
Editor: Andi Naga Wulan.





