Tak hanya menampilkan dokumen pemerintahan dan benda filateli. Pameran juga menghadirkan sejumlah koleksi langka yang berkaitan dengan proses persiapan kemerdekaan Indonesia.
Salah satunya adalah dokumen pembentukan Pembela Tanah Air (PETA) yang menjadi cikal bakal tentara nasional Indonesia.
Selain itu, pengunjung juga dapat melihat rekaman dan piringan gramofon lagu Indonesia Raya yang diproduksi pada tahun 1944.
“Ini menunjukkan bagaimana para pendiri bangsa dan pejuang kemerdekaan mempersiapkan Indonesia di tengah masa transisi yang sangat penting,” tutur Fadli.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyambut positif penyelenggaraan pameran tersebut.
Menurutnya, kegiatan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk akademisi dan pemerhati sejarah, semakin memperkaya daya tarik kawasan Kota Lama sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya.
“Pameran ini memperkaya Kota Lama dan memperkuat posisi Kota Semarang sebagai kota yang memiliki kekayaan sejarah. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraannya,” kata Agustina.
Pameran Sejarah Masa Kependudukan Jepang
Sementara itu, Kurator Pameran, Kesit Widjanarko, menjelaskan bahwa sekitar 100 artefak dipamerkan dalam kegiatan tersebut. Sebagian besar koleksi berasal dari masa pendudukan Jepang yang menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia.
Kesit menyebut salah satu koleksi menarik dalam pameran itu berkaitan dengan sejarah lagu Indonesia Raya yang pada masa pendudukan Jepang sempat diperbolehkan digunakan sebagai lagu kebangsaan.
“Dari arsip yang ada, kita dapat melihat bahwa Indonesia Raya pernah diperbolehkan digunakan sebagai lagu kebangsaan pada masa pendudukan Jepang. Ini menjadi salah satu fakta sejarah yang menarik untuk dipelajari,” jelasnya.
Selain itu, pameran juga menampilkan koran edisi darurat yang memuat berbagai aturan peralihan dari pemerintahan kolonial menuju pemerintahan Jepang.
Menurut Kesit, koran tersebut hanya terbit dalam waktu yang sangat singkat sehingga keberadaannya kini tergolong langka.
Ia berharap pameran tersebut dapat menjadi ruang belajar sejarah yang lebih mendalam bagi masyarakat, terutama pelajar. Karena banyak detail sejarah yang belum tentu di peroleh melalui pembelajaran di sekolah.





