“Kami mengamati bahwa meskipun terjadi pergeseran masif dari tunai ke digital payment seperti QRIS dan mobile banking, namun tantangan utamanya adalah social engineering yang mendominasi insiden fraud,” ujar Dharma Putra.
Efek Social Engineering
Menurutnya, social engineering memanfaatkan kelemahan psikologis manusia seperti sikap serba instan, mudah panik, dan minim informasi, yang menjadi celah bagi pelaku kejahatan.
Di sisi risiko, Alexander Samuel, Kelompok Specialist Perbankan OJK, memaparkan temuan kritis. Ia menyebut total potensi kerugian serangan siber pada 2025 telah mencapai lebih dari Rp796 miliar. Hal ini mendesak bank untuk segera menindaklanjuti kelemahan pada proses Ketahanan Siber (Identify, Protect, Detect, Respond & Recover) sesuai Peraturan OJK (POJK).
Menutup sesi, Direktur Utama Bank Jateng, Irianto Harko Saputro, menyampaikan, untuk menghadapi risiko siber perlu ekosistem perbankan yang sehat.
“Dukungan penuh Bank Jateng adalah wujud nyata komitmen kami untuk menciptakan ekosistem perbankan yang tidak hanya sehat, tetapi juga tangguh dalam menghadapi risiko siber, demi perlindungan nasabah dan percepatan ekonomi daerah,” pungkasnya.
Editor: Andi Naga Wulan.





