HeadlineIndepth

Garisbawahi Rencana Pemkot Revitalisasi Kali Semarang, Kopi Semawis: Jangan Fokus Riasan Kosmetik Belaka

×

Garisbawahi Rencana Pemkot Revitalisasi Kali Semarang, Kopi Semawis: Jangan Fokus Riasan Kosmetik Belaka

Sebarkan artikel ini
Kali Semarang
Kali Semarang yang hendak direvitalisasi oleh Pemerintah Kota Semarang. (Foto: sungaipu.semarangkota.go.id)

Ia menyebut, pemerintah harus memprioritaskan penertiban instalasi pengolahan air limbah (IPAL) serta pengadaan saluran toilet yang disertai septic tank di sepanjang aliran kali tersebut. Tidak lagi ada warga yang membuang sampah rumah tangga atau wc langsung ke sungai.

“Harus tegas sekali sehingga menimbulkan kesadaran, memang mau tidak mau pemerintah tidak boleh loyo untuk menegakkan aturan, terutama sungai. Bisa percepat dengan penegakkan hukum yang ketat,” ucapnya.

BACA JUGA: Sambut Tahun Baru Imlek, Kopi Semawis Percantik Kawasan Pecinan Semarang dengan Ratusan Lampion

Kembalikan kali pada fungsi semestinya

Kali Semarang memang pada dasarnya adalah denyut nadi perekonomian Kota Semarang. Dulunya, sungai ini menjadi jalur utama perahu-perahu lalu lintas dari Pelabuhan Kota Lama menuju pusat kota.

Rencana revitalisasi Kawasan Pecinan tentu menghidupkan asa banyak pihak bahwa Kali Semarang bisa kembali berjaya. Namun, rencana tersebut tentu tidak gampang. Perlu waktu, edukasi, hingga perubahan habit dan pola pikir warga sekitarnya.

“Bukan hanya fokus dijadikan wisata, tapi fungsi-fungsi sungainya tidak dikembalikan dulu. Itu nantinya tidak akan sustainable,” tambahnya.

Intinya, Harjanto mendukung penuh upaya revitalisasi Kawasan Pecinan. Hanya saja, jangan sampai program ini berhenti fokus pada wisata kapal. Sebab, hal itu seakan hanya riasan kosmetik semata yang bisa luntur kapan saja.

Yang terpenting, kata Harjanto, pemerintah mau berkomitmen untuk mengembalikan fungsi Kali Semarang seperti sungai pada umumnya, yaitu tempat aliran air. Manakala hal itu tercapai, dampak-dampak lain seperti munculnya pariwisata bisa berjalan seiringan.

“Kalau fungsinya aja nggak jalan nanti misal masih kotor, masih terjadi pendangkalan, nanti kan percuma, paling pariwisata segebyar aja tapi orang nggak mau datang lagi karena ternyata bau dan kotor,” tandasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp