“Kapibara hanya mengonsumsi tumbuhan dan sayuran. Ikan nila maupun lele yang ada di kolam tidak di makan. Justru ikan itu membantu menjaga kebersihan kolam dengan memakan jentik nyamuk,” katanya.
Rizky mengaku masa kehamilan induk kapibara tidak terlalu terlihat secara fisik. Namun pengalaman dan interaksi sehari-hari membuat para penjaga dapat mengenali perubahan perilaku maupun bentuk tubuh satwa tersebut.
“Kami sebenarnya sudah mengetahui induknya bunting, walaupun secara kasat mata tidak terlalu terlihat. Karena setiap hari berinteraksi, perubahan kecil tetap bisa kami amati,” ujarnya.
Ia juga memastikan kedua anak kapibara dalam kondisi sehat sejak lahir dan mendapatkan perawatan penuh dari induknya.
Untuk menjaga kenyamanan satwa di tengah cuaca yang berubah-ubah, Semarang Zoo menyediakan kolam air yang memungkinkan kapibara berendam setiap saat.
“Kapibara merupakan satwa semiakuatik, jadi keberadaan air sangat penting untuk membantu menjaga suhu tubuhnya tetap stabil,” tuturnya.
Kelahiran dua bayi kapibara ini menambah daya tarik Semarang Zoo bagi masyarakat yang ingin melihat lebih dekat perkembangan satwa terbesar dalam kelompok hewan pengerat tersebut. Kehadiran anggota baru ini sekaligus menjadi indikator keberhasilan pengelolaan dan kesejahteraan satwa di Semarang Zoo. (*)
Editor: Elly Amaliyah





