Tak hanya itu, mereka juga meminta pengurus cabang Himasal untuk mengambil langkah lanjutan. Dalam kesempatan itu, mereka juga meminta seluruh tim produksi yang terlibat dalam acara tersebut untuk diberhentikan.
“Dua, menginstruksikan kepada jajaran pengurus cabang Himasal se-Jawa Tengah untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi menjaga marwah pesantren dan para kiai di wilayahnya masing-masing. Tiga, menuntut kepada produser dan tim redaksi yang terlibat dalam tayangan tersebut harus diberhentikan dan diberi sanksi tegas,” sambungnya.
Tak hanya minta klarifikasi permohonan maaf, santri tuntut Trans7 tayangkan kebaikan pesantren
Lebih lanjut, mereka juga menuntut agar pihak Trans7 tak hanya menyampaikan permintaan maaf. Namun, juga menayangkan sisi positif pesantren sebagai tanda klarifikasi lainnya.
“Empat, menuntut agar Trans7 wajib menayangkan klarifikasi resmi dan program khusus yang memperlihatkan wajah sejati pesantren mulai keilmuan, akhlak, dan pengabdian yang sesungguhnya,” jelasnya.
Mereka juga menuntut agar KPI, melalui KPID Jawa Tengah, dapat menjatuhkan sanksi kepada channel tersebut. Bahkan, para santri meminta KPI mencabut hak siar dari Trans7.
BACA JUGA: Program Trans7 dan Narasi yang Publik Anggap Melecehkan Pesantren, Netizen Ramai Tulis Boikot
“Lima, mendorong kepada Dewan dan KPI untuk meninjau kembali dan mempertimbangkan aspek kepatuhan jurnalistik Trans7 dan memeriksa adanya pelanggaran, termasuk izin penyiaran serta menjatuhkan sanksi yang seberat-beratnya dan bila perlu mencabut izinnya,” pungkasnya.
Aksi demonstrasi itu berlangsung damai dan berakhir pada pukul 13.00 WIB, sesaat setelah KPID Jawa Tengah menerima perwakilan pondok pesantren (ponpes) dan kiai. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi













