“Alhamdulillah, per pukul 13.00 WIB transaksi yang terbangun tercatat Rp2,9 triliun,” ujar Khofifah.
Ia merinci, dari total nilai transaksi tersebut, Jawa Timur mencatatkan penjualan ke Jawa Tengah senilai Rp2,658 triliun, sementara pembelian dari Jawa Tengah mencapai Rp184 miliar. Selain itu, terdapat komitmen investasi sebesar Rp96 miliar.
“Jatim jual Rp2,658 triliun, Jatim beli Rp184 miliar, dan Jatim investasi Rp96 miliar,” jelasnya.
Khofifah menambahkan, transaksi terbesar berasal dari sektor peternakan dan perikanan. Adapun komoditas yang diperdagangkan dalam misi dagang ini meliputi beras, kopi, daging ayam, serta berbagai produk pangan dan hasil perikanan.
“Yang cukup signifikan itu di bidang peternakan Rp1,1 triliun dan di bidang perikanan Rp378 miliar,” katanya.
Sementara dari Jawa Tengah, komoditas yang diperdagangkan antara lain kayu, telur ikan, cengkeh, dan tembakau.
Sulit Lahan di Jawa Timur, Khofifah Ungkap Kerjasama REI dengan Jateng
Khofifah menjelaskan, investasi Jawa Timur ke Jawa Tengah berkaitan dengan penyediaan perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) melalui kolaborasi Real Estate Indonesia (REI) Jawa Timur dan REI Jawa Tengah.
“Yang Jatim investasi itu adalah investasi untuk MBR, REI Jawa Timur dan REI Jawa Tengah, untuk memaksimalkan program nasional,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, keterbatasan lahan di Jawa Timur menjadi salah satu alasan investasi tersebut diarahkan ke Jawa Tengah.
“Di Jawa Timur lahannya sudah rata-rata Lahan Sawah Dilindungi (LSD) dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), jadi sudah agak susah. Kecuali ada konversi lahan lain. Sehingga REI Jawa Timur melakukan investasi pengadaan MBR di Jawa Tengah,” kata Khofifah.
BACA JUGA: Punya Prospek Tinggi, Taj Yasin Tawarkan Investasi Pariwisata di Jateng ke Investor Luar Negeri
Menurutnya, kerja sama ini menjadi titik awal yang sangat baik bagi penguatan sinergi antardaerah.





