SEMARANG, beritajateng.tv – Gule Bustaman menjadi salah satu kekayaan kuliner Kota Semarang yang mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).
Penetapan tersebut menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memperluas pengenalan kuliner khas Semarang. Sekaligus menjaga tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Jawa Tengah, Hanung Triyono, mengatakan warisan budaya takbenda tidak hanya mencakup seni pertunjukan atau tradisi adat.
BACA JUGA: Penikmat Kuliner Timur Tengah Merapat, Ini 5 Pilihan Nasi Kebuli Enak di Semarang yang Wajib Dicoba
Makanan khas yang mengakar dalam kehidupan masyarakat juga menjadi bagian dari identitas budaya suatu daerah.
“Warisan budaya takbenda merupakan bagian dari kebudayaan yang sudah mengakar dalam karakter dan kearifan lokal masyarakat. Makanan, pakaian, seni, dan tradisi yang menjadi ciri khas daerah termasuk di dalamnya,” kata Hanung, Senin, 19 Oktober 2026.
Ciri Khas Gule Bustaman
Gule Bustaman, kata dia, memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dari gule pada umumnya. Terutama dari racikan bumbu dan penggunaan rempah-rempah.
Salah satu keunikannya, ucap Hanung, tidak menggunakan santan dalam proses pengolahan. Merujuk itu, cita rasanya mengandalkan perpaduan bumbu khas dengan racikan secara khusus.
BACA JUGA: Menjelajah Heritage Food Festival di Gang Warung Pecinan Semarang, Kuliner Lawas hingga Pernak-pernik jadi Buruan
Ciri lain yang menonjol terletak pada penggunaan blondo. Kata Hanung, itu merupakan bumbu berbahan kelapa yang disangrai hingga matang, kemudian ada penghalusan.
Bumbu tersebut menjadi salah satu unsur yang memberikan karakter khas pada Gule Bustaman.
Selain blondo, hidangan tradisional ini menggunakan sekitar sembilan hingga sepuluh jenis bumbu gule. Perpaduan berbagai rempah tersebut menghasilkan cita rasa yang menjadi pembeda Gule Bustaman dari sajian gule lainnya.
Gule Bustaman Perkuat Identitas Kuliner Semarang
Selama ini, Semarang dikenal luas melalui lumpia sebagai salah satu ikon kulinernya. Meskipun demikian, Hanung mengatakan, kekayaan kuliner daerah tidak seharusnya berhenti pada satu atau dua makanan yang telah populer.
Gule Bustaman memiliki peluang untuk semakin publik kenal sebagai bagian dari pengalaman wisata kuliner di Semarang. Pengenalan tersebut dapat berjalan dengan mengangkat cerita, sejarah, serta tradisi yang melekat pada makanan khas tersebut.
BACA JUGA: Mooncake Festival 2026 Jadi Titik Temu Tradisi, Kuliner dan Teknologi di Pecinan Semarang
Hanung juga menyinggung adanya ritual atau tradisi dalam perayaan yang berkaitan dengan kekhasan budaya Semarang. Unsur tersebut dapat memperkaya cara masyarakat mengenal kuliner lokal, bukan sekadar sebagai makanan, melainkan sebagai bagian dari warisan budaya.
Dengan pengakuan WBTb, Gule Bustaman, Hanung mengharapkan akan memperoleh perhatian lebih luas dari masyarakat, pelaku usaha kuliner, dan wisatawan. Upaya pengenalan juga perlu melibatkan pedagang yang selama ini menjaga keberlangsungan kuliner tersebut.
Gandeng Anak Muda untuk Promosi Digital
Hanung juga mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk memperkenalkan Gule Bustaman kepada khalayak yang lebih luas. Anak muda, kreator konten, dan influencer kuliner dinilai dapat berperan dalam membangun ketertarikan masyarakat terhadap makanan tradisional.
Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan ialah membuat konten pengalaman mencicipi kuliner, mengulas cita rasa, serta menceritakan keunikan makanan khas Semarang. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga dapat mendukung pengembangan materi promosi kreatif.
BACA JUGA: Pecinta Kuliner Jepang Wajib Coba! Menchi Chicken Katsu Jadi Menu Andalan di ASTON Inn Pandanaran Semarang
“Anak-anak muda yang menjadi influencer atau sering datang ke sana bisa menjadi tester untuk memperkenalkan kuliner ini. Harapannya, masyarakat semakin mengenal bahwa makanan tersebut memang memiliki karakter khas Semarang,” ujarnya.
Promosi digital tersebut dia harapkan tidak hanya meningkatkan popularitas Gule Bustaman. Akan tetapi juga mendorong masyarakat untuk lebih mengenal kuliner tradisional daerahnya sendiri. (*)
Editor: Diaz A Abidin





