Di sisi lain, Gus Rozin mengingatkan agar proses transformasi pesantren tidak menjelma menjadi bentuk hegemoni negara terhadap lembaga pendidikan yang telah berusia ratusan tahun itu.
BACA JUGA: Dorong Pesantren di Jateng Buat Lingkungan Ramah Anak, Mohammad Saleh: Bentuk Satgas Anti-Bullying
“Kita mesti aware terhadap potensi menguatnya hegemoni negara terhadap pesantren. Pesantren tetap harus mempunyai ruang untuk mempertahankan kekhasan dan tradisinya, yang dua hal itu juga dilindungi oleh undang-undang,” ujarnya.
Ia menilai, keberadaan Direktorat Jenderal Pesantren di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag RI) merupakan langkah positif untuk mempercepat transformasi tata kelola pesantren secara modern, asalkan tidak mengikis nilai-nilai khas pesantren.
“Transformasi pesantren melalui pelaksanaan amanat undang-undang itu juga perlu percepatan melalui Direktorat Jenderal Pesantren, tapi tanpa membuka potensi hegemoni negara terhadap pesantren,” tegas alumnus Monash University Australia tersebut.
Ungkap tantangan santri tahun 2025, perlu ekspos sisi baik di pesantren
Sehari setelah momentum Hari Santri 2025, Gus Rozin menilai perayaan tahunan tersebut semestinya tak lagi berhenti pada kegiatan seremonial.
Menurutnya, setelah satu dekade peringatan Hari Santri, sudah saatnya masyarakat dan pemerintah menjadikannya momentum refleksi dan kemajuan konkret.
“Sudah harus berhenti dirayakan secara hore-hore, seremonial, lomba-lomba yang tidak substantif. Karena tahun ini kita sudah merayakan hari santri yang ke-10,” ujarnya.
Ia menekankan agar Hari Santri dijadikan tonggak perkembangan pesantren, baik dalam bentuk kebijakan baru, program konkret, maupun capaian nyata di tingkat lokal.
“Setiap Hari Santri di level nasional perlu ada kebijakan baru yang progresif dan berpihak kepada pesantren. Pelaksanaannya harus lebih konkret dan maju,” katanya.
BACA JUGA: Momentum Hari Santri Nasional 2025, PWNU Jateng Dorong Pesantren Lebih Terbuka dan Adaptif
Menurutnya, pesantren bisa menjadikan Hari Santri sebagai momentum mengevaluasi kemajuan. “Misalnya tahun ini kita canangkan gedung baru, maka tahun depan kita rayakan selesainya pembangunan itu. Hari santri harus merayakan kemajuan, tidak melulu mengingat sejarah,” ujarnya.





