
Saleh juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah terombang-ambing oleh perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), deepfake, maupun maraknya buzzer yang kerap menghadirkan informasi yang tampak meyakinkan.
“Tidak perlu bingung di tengah serbuan AI, deepfake, buzzer, di mana semuanya seolah memberi kebenaran. Mahasiswa Aswaja tidak perlu bingung, lakukan tafakur, bukan ikut-ikutan. Kedepankan tabayyun, urusan viral belakangan saja,” tegas Saleh.
Menurutnya, kemampuan berpikir kritis harus ԁilatih melalui kebiasaan memeriksa sumber informasi, memahami konteks sebuah konten, serta menelaah motif di balik penyebaran informasi tersebut.
BACA JUGA: Perkuat Daya Saing UMKM, Wakil Ketua DPRD Jateng Mohammad Saleh Dorong Kredit Murah
“Latih nalar kritis dengan mempraktikkan cek sumber informasi, konteks konten, dan motif. Jangan hanya jadi konsumen informasi dan konten. Jangan sampai teracuni dengan konten, bangun kekebalan atau imunitas dengan nalar kritis,” ujarnya.
Khusus kepada mahasiswa Unwahas yang berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), ia menegaskan berpikir kritis tetap harus ԁikedepankan, namun tidak boleh meninggalkan etika dan adab.
“Kalau nalar kritis Barat meragukan semua hal, nalar kritis Aswaja meragukan semua hal secara beradab. Boleh curiga tapi tetap santun,” pungkas Mohammad Saleh. (adv)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





