Gaya Hidup

Hadeh, Pengen Ikutan Tren Lari Tapi Malah Pakai Joki Strava? Ini Kata Dokter

×

Hadeh, Pengen Ikutan Tren Lari Tapi Malah Pakai Joki Strava? Ini Kata Dokter

Sebarkan artikel ini
lari
Ilustrasi olahraga lari. (Pexels/Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Olahraga lari belakangan ini menjadi tren di Tanah Air. Selain murah, lari terbilang cukup simpel sebagai alternatif kegiatan dalam menjaga kebugaran badan.

Para pelari pun lantas mencatat aktivitas lari di aplikasi bernama Strava. Aplikasi tersebut berguna untuk melacak hasil kegiatan olahraga dan kemudian membagikannya secara publik.

Uniknya, di tengah olahraga lari yang kembali ngetren, muncul fenomena joki strava. Yakni jasa yang menggantikan sang pemilik akun untuk berolahraga dan mencatat hasilnya di Strava.

BACA JUGA: Olahraga Urban Hiking, Trik Tetap Sehat di Tengah Padatnya Kesibukan Perkotaan, Lebih Efisien Waktu!

Fenomena joki Strava ini membuat banyak pihak terheran-heran. Tak terkecuali para tenaga kesehatan. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang, dr Sigid Kirana Lintang Bhima mengaku miris dengan adanya joki Strava.

“Jadi fungsinya ini hanya sekedar lifestyle, mereka kurang paham dengan kesehatan sampai akhirnya joki pun marak,” katanya kepada beritajateng.tv, Senin, 29 Juli 2024.

Oleh karenanya, dr Sigid menilai jika tren olahraga yang meningkat saat ini tak beriringan dengan tingkat kesadaran anak muda akan kesehatan. Terbukti dengan malah munculnya joki Strava.

Adanya tren lari, alih-alih semakin banyak anak muda yang peduli akan kesehatan, nyatanya hanya berbondong-bondong mengikuti tren.

Saat olahraga jadi lifestyle dan ajang validasi diri

Idealnya, lanjut dr Sigid, Strava menjadi aplikasi penunjang olahraga. Misal untuk mencatat progres aktivitas seperti jarak, kecepatan, waktu, hingga detak jantung.

Akan tetapi, menggunakan joki Strava berarti menggunakan data-data palsu. Sehingga, fungsi lari sebagai olahraga itu tak bisa tercapai.

“Kalau memang kita fokus ke olahraga seharusnya nggak terjadi seperti itu. Berarti tujuannya tidak untuk sehat, tapi sekedar untuk lifestyle, pencitraan,” kata dr Sigid.

BACA JUGA: Ketua KONI: Lingkungan Sehat Berpengaruh Bagi Kegemaran Seseorang dalam Olahraga

Ia menilai, olahraga tak bisa jika berdasarkan perasaan FOMO (Fear of Missing Out) atau takut ketinggalan tren semata. Sehingga, aplikasi Strava juga harus kembali ke fitrahnya. Yaitu untuk mengukur kapasitas seseorang dalam berolahraga.

“Sebenarnya bagus juga kalau jadi lifestyle, bisa menunjang kesehatan, jadi tren olahraga itu ada efek positif. Tapi memang harus berbarengan dengan kejujuran,” tandasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp