SEMARANG, beritajateng.tv – Puluhan hektare lahan pertanian hortikultura di tujuh dusun, di wilayah dua desa, di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang dimangsa kawanan kera ekor panjang liar.
Belasan hektare tanaman sayuran, yang sebagian sudah siap dipanen, dan tersebar di enam wilayah dusun pun rusak. Akibatnya para petani harus menangung kerugian hingga ratusan juta rupiah.
“Kalau hitung berapa kerugian saya, jutaan rupiah,” ungkap Suwarni (64), salah seorang petani di Dusun Kluwihan, Desa Sidomukti, Kecamatan Bandungan, yang beritajateng.tv temui Jumat 14 November 2025 sore.
Ia menjelaskan, dari sekian jenis tanaman sayuran yang banyak kawanan kera liar ini mangsa adalah onclang atau daun bawang serta tanaman buncis. “Kalau tanaman cabai hanya mereka (kera) rusak,” jelasnya.
Karena beberapa petak lahan pertanian seluas 1,5 hektare ditanaminya secara tumpang sari, dengan tanaman jenis tanaman buncis, onclang, sawi dan juga cabai. Separuh lebih tanaman yang ada sudah dimangsa dan dirusak.
BACA JUGA: Sosialisasi JKN di Unnes, BPJS Kesehatan Tingkatkan Pemahaman Mahasiswa tentang Layanan Kesehatan
Buncis yang sudah siap panen sebagian habis kera makan hingga pohonnya banyak yang ambruk ke tanah. Demikian halnya tanaman onclang juga mereka cabut dan makan umbinya.
“Kalau tanaman cabai memang hanya kawanan kera liar tersebut rusak. Tetapi cabai yang sebenarnya hanya tinggal menunggu merah akhirnya menjadi layu dan tidak bisa petani panen,” tambahnya.
Antoni Cahyono (47), petani warga Dusun Geblog, Desa Sidomukti juga mengamini. Pada saat kawanan kera liar turun dari hutan ke ladang pertanian warga, jumlahnya bisa mencapai ratusan ekor.
Ia juga menambahkan, walaupun hampir setiap hari kawanan kera liar ini terlihat turun ke lahan pertanian warga, namun jumlahnya akan bertambah lebih banyak atau berlipat setiap hari Jumat.
Karena para petani umumnya meninggalkan lahan pertanian mereka lebih awal untuk menunaikan shalat Jumat. Sedangkan yang tinggal dan menjaga tanaman hanya para petani perempuan.
Namun, kawanan kera liar ini sama sekali tidak pernah takut jika yang menjaga tanaman adalah petani perempuan. “Jadi memang unik, walaupun mereka halau pun, mereka tidak takut kalau itu perempuan,” tegasnya.
BACA JUGA: Walikota Kerahkan Tenaga Medis Tambahan Bantu Warga Terdampak Banjir Semarang
Saat ini, lanjut Antoni, serangan hama kera liar sudah terjadi sedikitnya di tujuh dusun, yang berada di wilayah Desa Duren dan Desa Sidomukti, Kecamatan Bandungan.
Keenam dusun ini meliputi Dusun Krekesan, Kaligung, Clapar dan Dusun Legowo di Desa Duren serta Dusun Geblog, Kluwihan dan Dusun Tegalsari di wilayah Desa Sidomukti.
Jika satu orang petani bisa merugi Rp 1 juta hingga 2 juta rupiah. Maka total kerugian bisa mencapai ratusan juta rupiah. Karena jumlah petani di enam dusun ini lebih dari 70 orang.
Kawanan kera liar ini, jelasnya, memakan dan merusak tanaman seperti onclang, buncis, tomat, sawi, terong, mentimun dan tanaman cabai. Bahkan kuncup bunga mawar juga mereka makan.
Buah alpukat juga tidak luput dari sasaran kawanan kera liar. Bedanya, kalau buah alpukat memang tidak mereka makan langsung, namun akan mereka ‘simpan’ terlebih dahulu.
“Seperti manusia, biasanya, buah yang sudah tua dipetik dan dibawa ke semak-semak. Beberapa hari kemudian kawanan kera liar akan mengambil untuk dimakan,” jelasnya.
BACA JUGA: Polres Semarang Bersama Petani Bawen Panen Jagung 1,2 Ton, Masuk Gudang Bulog
Atas kondisi ini, lanjut Antoni, para petani hanya bisa pasrah, karena kerugian sudah di depan mata setelah mereka tidak bisa panen, padahal beberapa komoditas harga sedang bagus, seperti buncis dan onclang,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





