SALATIGA, beritajateng.tv – Para petani di wilayah Kelurahan Tingkir Tengah, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga dibuat pusing oleh hama tikus yang menyerang tanaman padi di sawah mereka.
Tak kurang 25 hektare lahan tanaman padi rusak kena serangan hama tikus. Bahkan para petani sudah dua kali mengalami gagal panen akibat serangan hama tikus tersebut.
“Sehingga petani mengalami kerugian yang tidak sedikit,” ungkap salah satu anggota kelompok tani (poktan) Sumber Agung, Kelurahan Tingkir Tengah, Aminul Akhla (58).
Ia mengaku, pada kondisi normal sawah seluas 2.000 meter persegi yang ia garap bisa menghasilkan panen gabah hingga 12 kwintal atau 1,2 ton.
Akibat serangan hama tikus, pada panen periode tanam I tahun 2025, hasilnya menyusut tajam. Hasil panen hanya 9 kilogram gabah yang sebagian masih hijau atau belum menguning.
BACA JUGA: Hama Tikus Merajalela, Petani Kabupaten Semarang “Gropyokan” Serentak, Lomba Tangkap Terbanyak
Kemudian pada masa panen pertama tahun 2026 ini sama sekali tidak panen. Hal ini karena tanaman padi di sawahnya total mengalami kerusakan akibat ganasnya hama tikus.
“Setelah ditanami kembali, sekarang tanaman padi juga sudah dirusak tikus lagi,” uangkapnya, saat beritajateng.tv temui di sela kegiatan gerakan pengendalian (gerdal) hama tikus, di Tingkir Tengah.
Dia mengungkapkan petani sudah mencoba berbagai cara untuk membasmi tikus, namun belum membuahkan hasil hingga anggota poktan bergotong-royong melakukan gropyokan tikus.
Sebelumnya, cara yang mereka lakukan adalah membasmi gulma di sawah terlebih dahulu. Hal itu agar tidak jadi tempat persembunyian tikus, kemudian memasang umpan beracun.
Namun, cara ini juga kurang maksimal, karena para petani belum bisa melakukannya secara rutin. Di satu sisi hama tikus yang menyerang tanaman padi di sawah juga semakin bertambah banyak.
Bahkan dari 25 hektare sawah yang terserang, luasan yang bisa terselamatkan hanya sebagian kecil saja atau kurang dari 20 persen.
“Sehingga masih perlu gerakan pengendalian hama tikus yang lebih besar dan serempak. Hal ini agar pengendalian hama tikus tersebut dapat berlangsung dengan maksimal,” tegasnya.
Lurah Tingkir Tengah, Titin Eka Novia menambahkan, para petani di lingkungan Kelurahan Tingkir Tengah sudah mengalami dua kali gagal panen akibat serangan hama tikus.
Oleh karena itu, gerakan pengendalian yang terlaksana kali ini juga melibatkan berbagai pihak. Bukan hanya para petani anggota kelompok namun juga melibatkan elemen lain.
Termasuk dinas terkait hingga di tingkat provinsi yang mendukung baik dari teknik membasmi maupun peralatan pendukung gropyokan, seperti alat pengasapan dan lainnya.
Karena lahan tanaman padi yang terserang hama tikus di Tingkir Tengah ini merupakan lahan sawah lestari yang memang harus terlindungi agar tetap produktif dan lestari.
BACA JUGA: Dampak Hama Tikus, Pemdes Banyubiru Semarang Minta Keringanan Pembayaran PBB
Bahkan bila perlu juga akan berkoordinasi dengan daerah lain. “Karena wilayah Tingkir Tengah ini kebetulan juga berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Semarang,” tambah Titin.
Hal ini diamini Camat Tingkir, Nyoto Dwi Sabdo menyampaikan, kegiatan gropyokan tikus kaki ini melibatkan anggota kelompok tani, TNI/Polri hingga BPBD Kota Salatiga.
Gerakan pengendalian hama tikus di wilayah Kecamatan Tingkir mulai dari lahan pertanian sawah di Tingkir Tengah. Kemudian akan berlanjut ke Tingkir Lor, Kalibening serta Sidorejo Kidul.
Rencananya juga akan ada pemberlakuan komunikasi dan koordinasi dengan beberapa desa yang ada di wilayah Kabupaten Semarang. “Karena memang wilayah kami berbatasan,” katanya. (*)
Editor: Farah Nazila





