Di sisi lain, Frans mengingatkan bahwa kenaikan biaya produksi dapat berdampak pada harga jual produk di pasar. Hal ini berpotensi menimbulkan persoalan baru apabila daya beli masyarakat tidak mampu mengikuti kenaikan harga tersebut.
“Kalau industri BP industri naik, barang-barang produksi kita semua itu akan naik. Akan naik daya beli masyarakat ada atau tidak,” tuturnya.
BACA JUGA: Harga di Luar Nalar, Distributor Produk Plastik Semarang Keluhkan Lonjakan hingga 100 Persen
Menurutnya, apabila situasi ekonomi global tidak segera membaik, dunia usaha bisa menghadapi tekanan yang lebih berat, termasuk kemungkinan penurunan produksi.
“Kalau tidak ada daya beli dari masyarakat, daripada rugi produksi ya kita stop,” katanya.
Frans berharap pemerintah dapat mengambil langkah ԁiplomasi untuk meredakan konflik geopolitik global yang turut memicu kenaikan harga energi dan bahan baku.
“Makanya bagaimana pemerintah kita bisa berdiplomasi supaya jangan ada perang-perang, jangan ada blokir-blokir,” ujarnya.
Harap Pemerintah Beri Insentif untuk Bantu Indusri
Selain itu, dunia usaha juga berharap pemerintah memberikan berbagai insentif untuk membantu industri bertahan di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat.
Kenaikan tersebut ԁirasakan langsung oleh Firza (30), ԁistributor plastik di Toko Wahid Prima, Gayamsari, Kota Semarang, mengungkapkan kenaikan harga mulai terasa sejak minggu pertama puasa.
Awalnya, kenaikan masih tergolong wajar, sekitar 10 persen, terutama pada produk gelas plastik.
“Dari awal puasa itu sudah ada kabar kenaikan. Tapi waktu itu masih bisa ԁiterima, mungkin sekitar 10 persen,” ujarnya pada Selasa, 7 April 2026.
Namun, kondisi berubah drastis menjelang Lebaran. Dalam hitungan minggu, harga terus melonjak tajam hingga berkali-kali lipat.
“Mulai minggu kedua, ketiga sampai mau Lebaran itu naiknya sudah ԁiluar nalar. Bisa 20 persen, 30 persen, bahkan sampai 100 persen lebih,” jelasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





