Ekbis

Harga Biji Plastik Naik 100 Persen, Apindo Jateng Sebut Industri Mulai Tertekan

×

Harga Biji Plastik Naik 100 Persen, Apindo Jateng Sebut Industri Mulai Tertekan

Sebarkan artikel ini
Bahan Baku Plastik | Distributor Plastik
Distributor plastik yang mengeluh karena harga naik, Selasa, 7 April 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kenaikan harga bahan baku plastik mulai ԁirasakan oleh pelaku industri di Jawa Tengah. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah menyebut lonjakan harga biji plastik terjadi seiring kenaikan harga minyak dunia yang menjadi bahan dasar produksi plastik.

Ketua Apindo Jawa Tengah, Frans Kongi, mengatakan kenaikan harga tersebut sudah mulai ԁirasakan oleh sejumlah perusahaan, meski masih berada pada tahap awal. “Memang ԁirasakan tapi belum terlalu mencekik,” kata Frans saat beritajateng.tv konfirmasi pada Kamis, 9 April 2026.

Ia menjelaskan, kenaikan harga bahan baku plastik tidak terlepas dari lonjakan harga minyak yang menjadi komponen penting dalam berbagai proses industri. Ketika harga minyak meningkat, hampir seluruh sektor produksi ikut terdampak.

BACA JUGA: Harga Jus di Semarang Naik Imbas Cup Plastik Mahal, Pembeli Mulai Bawa Tumbler Sendiri

“Minyak itu ԁiperlukan semua perusahaan. Dia menentukan sekali itu. Jadi kalau minyak tidak ada, harga-harga naik,” ujarnya.

Frans menyebut harga biji plastik bahkan mengalami kenaikan sangat signifikan hingga mencapai dua kali lipat. “Memang biji plastik naik, 100 persen karena harga minyak naik,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut mulai memberikan tekanan bagi perusahaan, terutama bagi industri yang sebelumnya telah menandatangani kontrak produksi dengan harga lama. “Ada produk plastik yang sudah teken kontrak rugi karena bahan baku naik,” ungkapnya.

Dampak Kenaikan Harga Bahan Baku Plastik Masih pada Tahap Awal

Meski demikian, Frans menilai dampak kenaikan harga bahan baku ini masih berada pada tahap awal. Namun jika kondisi berlangsung lama, tekanan terhadap industri ԁiperkirakan akan semakin besar. “Ini baru tahap pertama, baru tahap awal,” katanya.

Ia juga menyoroti ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor yang masih cukup tinggi, termasuk untuk sektor tekstil dan garmen. “Bahan baku kita ini 70 persen masih impor,” ujarnya.