SEMARANG, beritajateng.tv – Kenaikan harga cabai di Jawa Tengah (Jateng) dalam dua pekan terakhir dinilai bukan disebabkan oleh kelangkaan pasokan. Asosiasi Petani Tangguh Ngopeni Kesejahteraan dan Inflasi (Petarung Sejati) Jateng menyebut lonjakan harga lebih dipengaruhi meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), serta faktor distribusi.
Ketua Petarung Sejati Jateng, Sunan, menegaskan hasil pemantauan di lapangan menunjukkan pasokan cabai masih dalam kondisi surplus. Karena itu, ia mengaku heran harga cabai justru mengalami kenaikan di sejumlah pasar tradisional kabupaten/kota.
“Di lapangan saya jamin pasokan cabai kita itu surplus. Tapi mungkin karena permintaan masyarakat meningkat, akhirnya harga ikut naik. Ini baru sekitar dua minggu terakhir, sebelumnya masih di kisaran Rp45.000,” ujar Sunan saat beritajateng.tv konfirmasi, Senin, 15 Desember 2025.
Selain permintaan, Sunan menilai persoalan distribusi turut berkontribusi terhadap kenaikan harga. Menurutnya, Jawa Tengah belakangan harus menopang kebutuhan cabai untuk daerah lain yang terdampak bencana, sehingga pengiriman ke luar daerah tidak terhindarkan dan berdampak pada harga di pasar lokal.
“Mungkin ditambah kemarin ada musibah di Aceh sehingga permintaan ke sana cukup banyak. Ditambah lagi fenomena banjir di Jawa Timur, membuat Jawa Tengah harus menjadi penopang utama secara nasional,” jelasnya.
BACA JUGA: Awal Musim Hujan, Petani Blora Pilih Tanam Cabai: Lebih Untung, Sekali Tanam Bisa Panen 10-15 Kali
Terkait pengaruh cuaca, Sunan menyebut dampaknya terhadap produksi relatif kecil, hanya sekitar 10-15 persen. Meski begitu, angin kencang ternilai cukup merugikan petani karena menyebabkan banyak tanaman cabai roboh dan membutuhkan waktu pemulihan lebih dari 10 hari.
“Angin kencang itu membuat banyak tanaman roboh. Pemulihannya memang butuh waktu,” ungkapnya.
Untuk mengatasi persoalan distribusi, Sunan mengaku telah berkomunikasi dengan Jawa Tengah Agri Berdikari (JTAB). Ia berharap ke depan setiap provinsi dapat memenuhi kebutuhan cabainya secara mandiri. Petarung Sejati, kata dia, juga siap membantu pemerintah dengan menyediakan cabai murah guna meredam gejolak harga.
“Saya akan instruksikan seluruh 15 kabupaten/kota setiap panen agar di prioritaskan untuk memenuhi kebutuhan Jawa Tengah terlebih dahulu. Insyaallah tidak lama lagi, mungkin sekitar seminggu ke depan, harga bisa stabil di bawah Rp60.000,” ucapnya optimistis.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng, July Emmylia, menyatakan pihaknya akan memperketat pemantauan stok dan harga cabai serta bahan pokok lainnya guna menjaga stabilitas pasokan dan melindungi konsumen menjelang Nataru.
BACA JUGA: TPID Jateng Turun Tangan Stabilkan Harga Cabai Lewat Operasi Pasar
Sebagai langkah pengendalian harga, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng mengandalkan aplikasi Sejagat, yakni sistem pemantauan ketersediaan stok dan disparitas harga bahan pokok. Melalui aplikasi tersebut, kondisi pasar dapat dipantau secara real-time.
“Ketika terjadi disparitas harga yang tinggi, kami menegur kontributor untuk mengecek langsung ke lapangan. Jika memang karena ketersediaan berkurang, kami akan melakukan intervensi. Itu terus kami lakukan melalui pemantauan di Sejagat,” kata Emmy. (*)
Editor: Farah Nazila





