SEMARANG, beritajateng.tv – Lonjakan harga produk plastik kian menekan pelaku usaha, mulai dari distributor hingga pedagang kecil. Kenaikan yang terjadi sejak awal Ramadan kini bahkan disebut sudah di luar batas wajar, karena mencapai lebih dari 100 persen pada sejumlah produk.
Firza (30), distributor di Toko Wahid Prima, Gayamsari, Kota Semarang, mengungkapkan kenaikan harga mulai terasa sejak minggu pertama puasa. Awalnya, kenaikan masih tergolong wajar, sekitar 10 persen, terutama pada produk gelas plastik.
“Dari awal puasa itu sudah ada kabar kenaikan. Tapi waktu itu masih bisa diterima, mungkin sekitar 10 persen,” ujarnya pada Selasa, 7 April 2026.
Namun, kondisi berubah drastis menjelang Lebaran. Dalam hitungan minggu, harga terus melonjak tajam hingga berkali-kali lipat.
“Mulai minggu kedua, ketiga sampai mau Lebaran itu naiknya sudah diluar nalar. Bisa 20 persen, 30 persen, bahkan sampai 100 persen,” jelasnya.
Ia mencontohkan harga gelas plastik yang sebelumnya dijual sekitar Rp9.000 per slop, kini melonjak menjadi Rp15.000 hingga Rp16.000. Sementara harga per dus yang semula Rp250.000 kini bisa mencapai Rp400.000 hingga Rp500.000.
“Kalau sudah seperti itu, ini bukan sekadar kenaikan harga lagi, tapi sudah ganti harga,” tegas Firza.
Tak hanya gelas plastik, kenaikan juga terjadi pada berbagai produk lain seperti styrofoam dan kertas nasi. Harga styrofoam yang sebelumnya Rp25.000 per slop kini naik menjadi Rp38.000, sedangkan kertas nasi dari Rp23.000 menjadi Rp30.000.
Kondisi ini berdampak langsung pada pelaku UMKM yang menjadi konsumen utama produk plastik. Firza menyebut pedagang kecil seperti penjual es teh jumbo dan makanan kaki lima menjadi pihak paling terdampak.
“Yang paling kena itu pedagang keliling. Mereka biasa beli Rp15.000, sekarang jadi Rp25.000. Hampir setiap hari ada yang komplain,” katanya.
Distributor Produk Plastik Juga Keluhkan Kelangkaan Barang
Selain kenaikan harga, masalah lain yang muncul adalah kelangkaan barang. Firza menyebut sejumlah pabrik mulai menghentikan produksi karena kesulitan bahan baku.
“Sekarang bukan cuma mahal, tapi barang juga mulai langka. Pabrik sudah mulai close order karena bahan baku biji plastik sulit,” jelasnya.
Ia menduga kondisi ini berkaitan dengan terganggunya pasokan bahan baku impor akibat konflik global yang memengaruhi distribusi minyak mentah sebagai bahan dasar petrokimia.
Firza berharap pemerintah dapat segera mencari solusi, terutama terkait stabilitas bahan baku plastik, agar pelaku usaha tidak semakin tertekan.
“Kalau harga naik tapi barang masih ada, mungkin masih bisa diatasi. Tapi ini barang juga mulai sulit, itu yang bikin kami semakin pusing,” pungkasnya.
BACA JUGA: Harga Plastik Melonjak, Ini Alternatif Kantong Plastik yang Ekonomis dan Ramah Lingkungan
Salah satu pelaku UMKM, Ipah (32), penjual ayam geprek, mengaku merasakan langsung dampak kenaikan tersebut. Ia menyebut harga kemasan styrofoam melonjak tajam dalam waktu singkat.
“Dulu per slop Rp25.000, sekarang jadi Rp38.000. Naiknya banyak banget,” ujarnya.
Meski biaya operasional meningkat, Ipah mengaku belum berani menaikkan harga jual secara signifikan. “Paling naik Rp1.000 saja. Takut kalau naik banyak, pembeli berkurang,” katanya.
Di sisi distributor, kondisi ini juga memicu dilema. Firza mengaku harus menambah modal hingga dua kali lipat untuk menjaga stok barang.
“Biasanya modal Rp10 juta, sekarang bisa sampai Rp20 juta karena harga naik hampir 100 persen,” ungkapnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





