SEMARANG, beritajateng.tv – Emas selama ini dikenal sebagai salah satu instrumen investasi yang relatif stabil dan kerap menjadi pilihan saat kondisi ekonomi tidak menentu. Meski demikian, harga emas tidak selalu mengalami kenaikan dan tetap berpotensi turun karena dipengaruhi berbagai faktor.
Banyak investor mempertanyakan apakah harga emas bisa turun di tengah tren kenaikan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Jawabannya, harga emas memang dapat mengalami penurunan, terutama dalam jangka pendek hingga menengah.
Pergerakan harga emas terpengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS), tingkat inflasi, situasi geopolitik, hingga kebijakan suku bunga bank sentral.
BACA JUGA: Stabil? Update Harga Emas Perhiasan 6K – 24K Hari Ini Senin 8 Juni 2026
Saat kondisi ekonomi membaik, misalnya, sebagian investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen lain seperti saham sehingga permintaan terhadap emas berkurang. Penurunan permintaan tersebut dapat menekan harga emas di pasar.
Selain itu, penguatan dolar AS juga berpotensi membuat harga emas melemah karena logam mulia tersebut diperdagangkan menggunakan mata uang dolar. Faktor lain yang turut memengaruhi adalah tingkat inflasi, kondisi geopolitik dunia, serta keseimbangan antara permintaan dan pasokan.
Kebijakan suku bunga yang bank sentral terapkan, khususnya The Fed di Amerika Serikat, juga menjadi salah satu faktor penting. Kenaikan suku bunga biasanya membuat instrumen investasi berbunga menjadi lebih menarik daripada emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Meski berpotensi turun, harga emas ternilai kecil kemungkinan kehilangan seluruh nilainya. Emas tetap memiliki nilai intrinsik sebagai aset fisik yang di gunakan secara luas di berbagai sektor.
Dalam sejarahnya, harga emas pernah mengalami penurunan cukup tajam pada beberapa periode.
Salah satunya terjadi pada awal 1980-an setelah harga emas mencapai puncak. Saat itu, pemerintah Amerika Serikat menerapkan kebijakan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi. Kebijakan tersebut membuat investor beralih ke instrumen berbunga sehingga harga emas mengalami koreksi signifikan.





