Ia menilai, kondisi ini justru bisa menjadi pengingat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. “Kalau bisa jadi kita ngurangin plastik, misalnya bawa tumbler sendiri, ya bagus juga,” ujarnya.
Meski ada penyesuaian harga akibat kenaikan cup dan plastik, daya beli masyarakat terhadap jus buah di Pleburan masih relatif stabil. Harga yang tetap terjangkau dan kebutuhan akan minuman segar membuat kedai jus tetap ramai pembeli.
Kenaikan harga plastik juga dirasakan langsung oleh Firza (30), distributor plastik di Toko Wahid Prima, Gayamsari, Kota Semarang. Ia mengungkapkan kenaikan harga mulai terasa sejak minggu pertama puasa. Awalnya, kenaikan masih tergolong wajar, sekitar 10 persen, terutama pada produk gelas plastik.
“Dari awal puasa itu sudah ada kabar kenaikan. Tapi waktu itu masih bisa diterima, mungkin sekitar 10 persen,” ujarnya pada Selasa, 7 April 2026.
Namun, kondisi berubah drastis menjelang Lebaran. Dalam hitungan minggu, harga terus melonjak tajam hingga berkali-kali lipat.
“Mulai minggu kedua, ketiga sampai mau Lebaran itu naiknya sudah di luar nalar. Bisa 20 persen, 30 persen, bahkan sampai 100 persen lebih,” jelasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





