Dampak dari kenaikan tersebut juga terlihat pada penurunan produksi. Sebelum harga melonjak, Joko mengaku mampu mengolah hingga 900 kuintal hingga 1 ton kedelai per hari. Kini, produksinya turun menjadi sekitar 600 hingga 700 kuintal per hari. “Omset juga ikut turun karena produksi berkurang,” katanya.
Ia menyebut, kenaikan harga bahan baku seperti ini bukan pertama kali terjadi, terutama karena ketergantungan pada impor. Namun, lonjakan kali ini dirasakan cukup signifikan dan berlangsung dalam waktu relatif lama.
“Kenaikan seperti ini sering terjadi, apalagi karena kita tergantung impor. Tapi sekarang ini cukup terasa dampaknya,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





