BLORA, Beritajateng.tv – Kenaikan harga kedelai mencapai Rp11.600 per kilogram (kg) membuat resah pedagang tahu dan tempe di Pasar Tradisional Sidomakmur, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Padahal sebelumnya berkisar Rp9.500 per kilogram yang katanya sebagai harga acuan dari pemerintah. Selisih harga itu mencapai Rp2.100 per kilogram atau sekitar 22 persen di atas angka acuan tersebut.
Hal itu salah satunya Munib rasakan. Dia, salah seorang pedagang tahu mengaku bingung untuk menyiasati kenaikan harga bahan baku agar tetap bisa berjualan.
“Kami tidak mengurangi ukuran tahunya, takutnya enggak laku. Sedangkan pembeli juga tidak mau harganya naik, padahal harga kedelainya naik. Susah mas, kalau tidak punya dagangan lainnya, gak ada untung,” katanya saat beritajateng.tv temui, Sabtu, 17 Oktober 2026.
BACA JUGA: Harga Cabai di Jateng Makin Pedas Tembus Rp70 Ribu per Kg, Dishanpan Buat Gerakan Pangan Murah
Sejumlah pedagang, kata dia, mengaku tidak berani menaikkan harga tahu dan tempe. Mereka ntaran khawatir mendapat keluhan dari pelanggan. Pedagang akhirnya memilih mengurangi keuntungan demi mempertahankan jumlah penjualan.
Saat ini, munib berkata, menjual tahu dengan harga berkisar Rp4 ribu hingga Rp5 ribu per bungkus. Sementara itu, tempe pasaran harganya Rp3 ribu hingga Rp5 ribu per bungkus.
Di tengah melonjaknya biaya bahan baku, kata Munib, para pedagang memilih bertahan tidak menaikkan harga jual karena khawatir dagangan mereka sepi pembeli.
BACA JUGA: Nala Indonesian Tea, Teh Artisan Asal Batang yang Tembus Pasar Australia hingga Eropa
Kondisi ini, dia bilang, membuat pedagang berada dalam posisi sulit. Mereka harus menghadapi kenaikan harga kedelai, sementara daya beli masyarakat menjadi pertimbangan utama dalam menentukan harga jual.
Hal serupa dirasakan Kiswati, pedagang tempe. Di tengah kenaikan biaya produksi, pedagang memilih mempertahankan harga jual agar dagangannya tetap minati masyarakat minati.
“Saya enggak tahu ya, naiknya karena apa? Kedelai kok naik terus. Mau dikecilkan (ukurannya), pembelinya bilang ‘kok kecil- kecil’. Saya jadi bingung,” katanya. (*)
Editor: Diaz A Abidin





