EkbisFeature

Nala Indonesian Tea, Teh Artisan Asal Batang yang Tembus Pasar Australia hingga Eropa

×

Nala Indonesian Tea, Teh Artisan Asal Batang yang Tembus Pasar Australia hingga Eropa

Sebarkan artikel ini
Nala Tea asal Kabupaten Batang
Ratih Anggun saat meracik varian Nala Tea di Bazar Serambi Nusantara di Lapangan Parkir Eks E-Plaza Simpang Lima, Sabtu, 19 September 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Dari kebun teh di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, lahir teh artisan yang perlahan menembus pasar internasional. Nala Indonesian Tea tidak hanya mengandalkan cita rasa, tetapi membawa konsep healthy lifestyle, pemberdayaan petani, hingga edukasi budaya minum teh.

Pemilik Nala Indonesian Tea, Ratih Anggun Perdhani, mengatakan, usaha tersebut mulai dirintis pada 2018. Pada tahap awal, usahanya bergerak dalam pengemasan teh single origin dengan menggandeng petani dan pengolah teh lokal di Kabupaten Batang.

“Awalnya kami memang bergeraknya di packaging untuk single origin. Kami berkolaborasi dan bersinergi sama petani dan pengolah lokal yang ada di Batang,” kata Ratih kepada beritajateng.tv di Bazar Serambi Nusantara di Lapangan Parkir Eks E-Plaza Simpang Lima, Kota Semarangm, Sabtu, 19 September 2026

Seluruh produk Ratih mengusung konsep bahan alami tanpa tambahan essence, flavor, maupun bahan kimia untuk menciptakan aroma dan rasa. Ratih mengembangkan konsep menuju wellness tea, sehingga aktivitas minum teh tidak hanya menjadi kebiasaan menikmati minuman, tetapi juga bagian dari gaya hidup sehat.

Mengangkat Teh Berkualitas Tinggi dari Petani Batang

Ratih menjelaskan, potensi teh Batang sebenarnya tidak kalah dengan daerah penghasil teh lainnya. Persoalannya, sejumlah petani dan pengolah lokal masih menghadapi kendala ketika harus memasarkan specialty tea yang memiliki pasar lebih terbatas.

“Ketika mereka bikin produk specialty tea, teh yang petikan halus, mereka bisa bikin, tapi untuk jualnya bingung ke mana. Pasarnya sangat kecil,” ucapnya.

BACA JUGA: Dari Bungkus Pakan Anabul, jadi Kerajinan Eco Handbag Bermotif Geometri Ala Squid Game

Nala kemudian mencoba menjadi jembatan antara petani, pengolah, dan konsumen dengan mengembangkan specialty tea. Salah satu perbedaannya terletak pada proses pemetikan yang dilakukan secara lebih selektif menggunakan tangan.

Saat ini, Ratih berkolaborasi dengan sekitar lima petani dan pengolah teh di Batang. Dia mengatakan, proses pemberdayaan tersebut masih dilakukan secara bertahap karena kebutuhan kualitas specialty tea berbeda dengan produksi teh untuk pasar massal.

“Walaupun sedikit, tidak apa-apa, kita bisa bertemu bareng,” katanya.

Ratih juga memiliki perhatian khusus terhadap para pemetik teh. Dia menceritakan pengalamannya bertemu ibu-ibu pemetik yang harus membawa puluhan kilogram daun teh dengan nilai hasil yang menurutnya masih rendah.

Dari keresahan tersebut, Ratih berupaya mendorong produk dengan nilai jual lebih tinggi agar petani dan pemetik dapat memperoleh manfaat lebih besar. Menurut Ratih, langkah tersebut sekaligus menjadi upaya menjaga keberlanjutan regenerasi petani teh di Batang.

Apa Saja Varian Nala Tea?

Sejauh ini Ratih mengembangkan empat jenis teh murni (base tea), yakni white tea, green tea, oolong tea, dan black tea. Seluruhnya menggunakan bahan baku specialty tea dengan pemetikan yang dilakukan secara selektif sejak dari kebun.

Selain single origin, Nalatea mengembangkan sejumlah varian artisan yang memadukan teh dengan bunga, rempah, maupun bahan alami lainnya.

BACA JUGA: Potret Seniman Kaligrafi India Gori Yusuf Husen, Wariskan Teknik Klasik ke Penjuru Dunia

Beberapa varian yang ditampilkan Nalatea antara lain Nalawatea Function & Wellness Tea, Ramu Cotecaberry, Swaran Blue, Manala Chai, Dahayu, dan Santika.

Nalawatea merupakan teh putih yang dipadukan dengan bunga dan buah, sedangkan Ramu Cotecaberry menggunakan teh hitam dengan aroma kopi, rasa manis gojiberry dan nanas, serta aftertaste cokelat dan sensasi peppermint.

Sementara Swaran Blue merupakan teh putih dengan perpaduan bunga dan buah. Ada pula Manala Chai yang mengombinasikan teh hitam dengan berbagai rempah dan aroma peppermint.

Varian lainnya, Dahayu, memadukan teh hijau dengan sejumlah bunga untuk memberikan karakter rasa yang lebih ringan. Sedangkan Santika memadukan teh hijau dengan aroma menenangkan seperti chamomile dan mint.

Ratih mengatakan warna-warni pada produk Nala juga berasal dari bahan alami. Misalnya, warna biru berasal dari bunga telang, sedangkan warna peach dapat muncul dari kayu secang ketika diseduh dengan lemon mineral.

“Beberapa ingredients dari Nala itu kami tahu sumbernya, tahu asalnya dari mana. Kebanyakan memang kami tanam sendiri atau kolaborasi dengan teman dan kebun saudara,” jelasnya.

Raih Penghargaan Golden Leaf Awards Australia

Perjalanan Nala tidak berhenti di pasar Indonesia. Produk teh artisan asal Batang tersebut juga mendapatkan penghargaan dalam Golden Leaf Awards 2023 by Australian Tea Master.

Berdasarkan keterangan Ratih dan sertifikat yang ditampilkan, Nala memperoleh Gold Winner 2023 untuk kategori Functional & Wellness Blend serta Black Tea Natural Blend. Sementara varian White Tea Natural Blend meraih Silver Winner 2023.

Pasar Internasional hingga Australia, Italia dan Swiss

Produk Nalatea kini telah dipasarkan di dalam negeri dan dikirim ke sejumlah negara. Ratih mengatakan, pengiriman dalam jumlah kecil secara rutin atau berkala telah menjangkau Australia, Italia, dan Swiss.

Nalatea beberapa kali mendapat tawaran ekspor dalam jumlah besar hingga dua atau tiga kontainer. Akan tetapi, karakter Nala sebagai produk artisan membuat perusahaan belum mengambil produksi dalam skala besar.

“Karena Nala ini produk artisan, batch-nya kecil. Kemudian Nala ini natural ingredients, jadi belum bisa produksi dalam jumlah besar,” katanya.

BACA JUGA: Daya Tarik Festival Ekonomi Kreatif dan Desa Wisata 2025, Dari Kerajinan hingga Mainan Anak Tradisional

Ratih bilang, sebagian calon pembeli dalam jumlah besar menginginkan teh dengan rasa buah. Di antaranya seperti peach atau mangga yang dibuat menggunakan essence. Akan tetapi dia memilih mempertahankan konsep bahan alami tanpa essence dan flavor.

Untuk pasar Indonesia, Bali menjadi salah satu wilayah yang banyak menyerap produk Nala, terutama sektor hotel, restoran, kafe, dan spa. Produk Nala juga telah menjangkau sejumlah daerah seperti, Yogyakarta, Surabaya, Sulawesi, dan Sumatera.

Rata-rata produksi Nala per bulan berkisar antara 200-400 bungkus teh. Untuk harga, varian Nala dengan kemasan 15-20gram seharga Rp35.000-Rp45.000. Sedangkan kemasan besar 50gram seharga Rp80.000-Rp135.000, sesuai dengan varian yang dipilih.

Mengajak Anak Muda Kembali Menikmati Teh

Lebih lanjut, Ratih mengatakan, tantangan industri teh bukan hanya persoalan produksi dan pemasaran. Akan tetapi juga edukasi konsumen. Dia menilai perlu memperkenakan budaya minum teh dengan cara yang lebih dekat dengan generasi muda.

Nalate bermaksud menggelar kelas teh, kegiatan tea gathering, hingga lokakarya untuk memperkenalkan perbedaan white tea, green tea, oolong, dan black tea. Termasuk teknik penyeduhan dan cara mengenali karakter rasa.

“Kami pengin teh itu tidak terlihat tua. Jadi terlihat cheerful, terlihat happy ketika menyeduh ataupun ketika kita minum,” kata dia.

Konsep tersebut kemudian harus mengembang melalui kegiatan yang menggabungkan teh dengan yoga, meditasi, mindfulness, hingga kolaborasi bersama psikolog dan praktisi kreatif.

Bagi Ratih, minum teh juga dapat menjadi aktivitas untuk berhenti sejenak dan memperhatikan aroma, warna, rasa, serta proses penyeduhan. Dari Batang, Nalatea ingin memperkenalkan bahwa teh Indonesia tidak hanya bisa menjadi komoditas, tetapi juga bagian dari pengalaman dan gaya hidup.

“Secara pribadi, sebagai Ratih dan sebagai Nala, saya ingin teh itu bisa berkembang lebih dan bisa dapat apresiasi lebih juga. Di Jawa Tengah, di Batang, di Indonesia pada umumnya sebenarnya tidak kalah dengan negara-negara lain,” tutur Ratih. (*)

Editor: Diaz A Abidin

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp