Gaya Hidup

Harga Rokok Pabrikan Kian Mahal, Tingwe Bisa Jadi Solusi, Modal Sedikit dapat Banyak!

×

Harga Rokok Pabrikan Kian Mahal, Tingwe Bisa Jadi Solusi, Modal Sedikit dapat Banyak!

Sebarkan artikel ini
Rokok Tingwe
Pemilik Wonkran Cigarette & Tobacco Shop, Aditya Sakti, saat sedang ngelinting dewe (melinting sendiri) alias tingwe tembakau di tokonya. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Harga rokok pabrikan di Indonesia kian mahal seiring kenaikan Cukai Hasil Tembakau (CHT). Oleh karena itu, tak sedikit perokok yang kemudian mencari opsi lain untuk mengurangi pengeluaran mereka. Salah satu solusinya adalah dengan beralih ke rokok ngelinting dewe (melinting sendiri) alias tingwe.

Pemilik Wonkran Cigarette & Tobacco Shop, Aditya Sakti, menuturkan bahwa kenaikan harga rokok pabrikan akhir-akhir ini membuat toko tembakau miliknya semakin ramai. Apalagi, tingwe terbilang jauh lebih murah dan irit sehingga menjadi pilihan para perokok.

“Tingwe lebih murah jauh, 50 gram tembakau bisa jadi 50 sampai 70 batang, dengan harga Rp8 ribu, padahal kalau beli satu bungkus isi 12 harganya bisa Rp30 rb, kalau pada mau ngirit pasti milih tingwe,” katanya saat beritajateng temui di tokonya yang beralamat di Jalan Wonodri Krajan 3 Nomor 8, Wonodri, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.

Aditya menjelaskan, harga tembakau tidak mengalami perubahan yang signifikan lantaran pemerintah hanya menerapkan CHT untuk rokok jadi produksi pabrikan. Sementara tembakau hanya kena cukai tembakau yang cenderung stagnan tiap tahunnya.

BACA JUGA: Ada Green Tea hingga Anggur Merah, Wonkran Cigarette & Tobacco Shop Jual Tembakau Berbagai Rasa

Ia bahkan beranggapan bahwa penerapan cukai rokok yang tinggi dari pemerintah merupakan langkah yang baik dalam menghargai petani tembakau.

“Nanti ujung-ujungnya memang pada ngelinting semua, kalau saya sih nggak papa harga rokok naik terus, karena yang diuntungkan kan kami, penjual tembakau dan petani tembakau,” lanjutnya.

Untuk rokok tingwe memang hanya membutuhkan modal yang sedikit. Berbekal tembakau Rp8 ribu, alat pelinting Rp5 ribu, kertas Rp1 ribu, dan lem kertas Rp4 ribu, perokok bisa membuat puluhan batang rokok hanya dengan modal belasan ribu rupiah saja.

“Mereka perokok jelas diuntungkan sejak ada tembakau linting, yang seharusnya sebulan keluar misal Rp500 ribu sekarang cuma menghabiskan kira Rp150 ribu, sisanya bisa dialihkan untuk keperluan yang lain,” jelas Aditya.

Rokok tingwe bisa jadi solusi sesuai keuangan

Di sisi lain, Aditya mengakui bahwa rokok tingwe memiliki tingkat kerepotannya sendiri lantaran harus melinting satu persatu. Namun, jika membandingkan dengan harga, tingwe memang menjadi salah satu solusi terbaik bagi para perokok.

Sementara untuk rasa, Aditya menyebut tidak begitu ada perbedaan yang signifikan. Aditya sendiri menganggap rokok sebagai salah satu gaya hidup yang berbeda antar individu, tergantung keuangan.

“Rokok itu cuma gengsi, penghasilan besar nggak mungkin rokok murah-murah. Rokok itu lifestyle kayak baju yang kita pakai, gaji gede pengennya yang bermerek. Kalau lagi nggak ada duit ya tingwe,” ucapnya.

BACA JUGA: Usung Konsep Tobacco Cafe, Mukti Cafe Manfaatkan Bekas Gudang Tembakau Berusia Ratusan Tahun

Tiap harinya di toko tembakau milik Aditya banyak pembeli berdatangan, mulai dari usia muda hingga dewasa. Apalagi, ia juga menyediakan tembakau dengan berbagai varian rasa yang menjadi primadona anak muda.

Dalam sebulan, ia bisa menjual lebih dari 10 kilogram tembakau. Harganya pun cukup terjangkau, mulai dari Rp8 ribu hingga Rp25 ribu, dengan sekitar 25 pilihan rasa.

“Semua orang bisa ngelinting kok, caranya gampang, banyak yang datang ke sini untuk belajar ngelinting pasti saya bantu,” tandasnya. (*)

Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp