Menurut Luthfi, pengembangan kawasan industri tersebut merupakan bagian dari konsep collaborative government antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.
“Kita siapkan 12 kawasan industri dan ekonomi khusus. Kami juga meminta arahan pemerintah pusat agar proses pengembangannya bisa lebih cepat,” jelasnya.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi RI Todotua Pasaribu menilai Jawa Tengah menjadi salah satu daerah dengan pertumbuhan investasi paling menjanjikan di Indonesia.
Ia menyebut capaian investasi Jawa Tengah pada 2025 maupun triwulan I 2026 termasuk yang tertinggi secara nasional.
“Sekitar 30 persen pertumbuhan ekonomi berasal dari realisasi investasi. Karena itu, CJIBF yang di inisiasi Pemprov Jawa Tengah dan Bank Indonesia ini sangat penting untuk menjaga momentum investasi,” ujar Todotua.
Ia juga mengapresiasi langkah Pemprov Jawa Tengah yang menyiapkan tambahan kawasan industri baru guna mendukung kebutuhan investor.
Menurutnya, keberadaan kawasan industri akan mempercepat proses perizinan. Sekaligus memperkuat konektivitas logistik dan pengembangan infrastruktur industri di Jawa Tengah.
“Kalau kawasan industrinya bertambah, maka perizinan akan lebih mudah dan cepat. Jawa Tengah punya wilayah luas dan potensi yang sangat besar untuk pengembangan industri,” katanya.
Selain menghadirkan forum bisnis, CJIBF 2026 juga diisi dengan berbagai agenda strategis seperti talkshow bertema Empowering Green and Sustainable Growth: Unlocking Investment Opportunities in Central Java’s Leading Sectors, project showcasing, one on one meeting. Hingga kunjungan langsung ke lokasi proyek investasi unggulan di Jawa Tengah. (*)





