Jateng

Jateng Modifikasi Cuaca Lagi Hingga 29 Januari, Sebar Satu Ton Garam Tekan Hujan Ekstrem Pantura

×

Jateng Modifikasi Cuaca Lagi Hingga 29 Januari, Sebar Satu Ton Garam Tekan Hujan Ekstrem Pantura

Sebarkan artikel ini
Jateng Modifikasi Cuaca | Garam Operasi Modifikasi Cuaca
Petugas tengah menata karung berisi NaCL (garam) yang digunakan untuk operasi modifikasi cuaca di Bandara Semarang, Kamis, 19 Desember 2024. (ant)

SEMARANG, beritajateng.tv – Operasi Modifikasi Cuaca kembali berlangsung pada perairan pantai utara (Pantura) Jawa Tengah untuk menekan ancaman hujan ekstrem pemicu bencana. Langkah ini menjadi respons cepat menghadapi dinamika cuaca puncak musim hujan awal 2026.

Sebanyak satu ton Natrium Klorida atau garam tersalur melalui penerbangan khusus menyasar awan potensial hujan lebat.

Kegiatan tersebut berlangsung pada sektor Pantura Jawa Tengah dengan pengawasan ketat tim teknis.

BACA JUGA: Tekan Risiko Banjir, BNPB Kerahkan 3 Pesawat Operasi Modifikasi Cuaca di Jawa Tengah

Flight Scientist PT Makson Sukses Pratama, Fadhlan Rizakul Hafidz, menyampaikan penyemaian berlangsung melalui pesawat PK-SCJ.

“Pada sortie ketiga, pesawat PK-SCJ melakukan penyemaian awan menggunakan bahan semai Natrium Klorida (NaCl) sebanyak 1.000 kilogram,” ujar Fadhlan dalam keterangannya, Selasa, 27 Januari 2026.

Area sasaran mencakup sektor laut Pantura Jawa Tengah dengan azimut 298 sampai 309 derajat. Jarak penerbangan mencapai 52 hingga 82 nautical mile dari Bandara Ahmad Yani Semarang.

Kondisi Meteorologi Kawasan Sasaran Modifikasi Cuaca Jateng Masih Mendukung Pertumbuhan Awan Hujan

Menurut Fadhlan, kondisi meteorologi kawasan sasaran masih mendukung pertumbuhan awan hujan. Penyemaian menyasar awan Cumulus Congestus dengan puncak awan 14 sampai 15 ribu kaki. Dasar awan terpantau pada kisaran 4 sampai 5 ribu kaki.

Tim penerbangan juga menemukan awan Stratocumulus dengan puncak sekitar 10 ribu kaki. Dasar awan berada sekitar 6 ribu kaki sehingga kondisi tersebut masih ideal.

“Kondisi angin saat penyemaian pada ketinggian 10 sampai 11 ribu kaki bergerak dari barat daya hingga barat. Kecepatan angin berkisar 5 sampai 17 knot selama proses berlangsung,” kata Fadhlan.

Data angin lapisan bawah hingga menengah menunjukkan arah barat laut dengan kecepatan 17 sampai 25 knot. Awan kawasan laut utara Jawa Tengah masih tampak masif serta berlapis.

“Pada ketinggian 10 ribu kaki, terlihat banyak awan berlapis,” jelas Fadhlan. Ia menambahkan keberadaan awan anvil berasal dari pertumbuhan Cumulonimbus bagian atas.