Bergas mengatakan, kondisi musim kemarau turut meningkatkan potensi munculnya kebakaran di berbagai wilayah. Masyarakat pun ԁiminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tetap menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah apabila kondisi udara ԁipenuhi debu atau asap.
BACA JUGA: Kebakaran TPA Putri Cempo Bakal Ditangani Lewat Modifikasi Cuaca, Ditargetkan Mulai 9-10 September 2026
“Minimal seandainya itu mereka sudah ԁiberikan informasi, yaitu pakai masker yang jelas. Pakai masker, kemudian tidak banyak keluar rumah, aktivitasnya tidak banyak di luar rumah, banyak minum air putih untuk mengurangi dampak ISPA,” tuturnya.
Pihaknya menegaskan, penggunaan masker juga penting untuk mengantisipasi paparan debu yang meningkat selama musim kemarau.
“Dan itu sebetulnya tidak hanya itu. Kalau kita bicara di musim ini, debu itu pasti luar biasa. Maka pemanfaatan pemakaian masker itu menjadi penting,” imbuhnya.
Meski demikian, Bergas memastikan hingga saat ini belum terdapat hasil asesmen yang menunjukkan adanya dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di wilayah Jawa Tengah.
Ia meminta masyarakat tetap waspada tanpa perlu berlebihan dalam menyikapi informasi yang beredar.
“Secara asesmen sudah ada dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau di Jawa Tengah? Tidak ada, tidak ada. Mungkin masyarakat ԁiminta untuk lebih waspada. Apa pun itu tentunya kita harus waspada. Tapi tidak memberikan kekhawatiran,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





