Jateng

Jawa Tengah Catat 600 Kebakaran per September 2026, BPBD: Tiga Ratusnya Kebakaran Hutan

×

Jawa Tengah Catat 600 Kebakaran per September 2026, BPBD: Tiga Ratusnya Kebakaran Hutan

Sebarkan artikel ini
Kebakaran Jawa Tengah | Abu Vulkanik Anak Krakatau
Kepala BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursari Penanggungan, dalam konferensi pers di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Senin, 7 September 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat sekitar 600 kejadian kebakaran hingga awal September 2026. Jumlah tersebut terbagi hampir merata antara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kebakaran permukiman dan gedung.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, mengatakan masing-masing kategori mencatat sekitar 300 kejadian.

“Karhutla ini sampai dengan hari ini sudah sekitar 600 kejadian. Kalau kita bagi dua hampir mirip, lebih banyak di kebakaran permukiman dan gedung, tapi jumlahnya masih sama-sama 300-an,” kata Bergas saat ԁitemui di Kantor Gubernur Jateng, Senin, 7 September 2026.

Dari sekitar 300 kejadian karhutla tersebut, kebakaran lahan atau perkebunan tercatat lebih dominan ԁibandingkan kebakaran hutan. Namun, dari sisi luasan area yang terdampak, kebakaran hutan justru tercatat lebih besar.

“Kalau bicara luasannya, lebih banyak luasan hutan. Tapi kalau sering terjadinya, kejadiannya lebih banyak di lahan dan ini penyebabnya lebih banyak ke human error,” jelasnya.

Bergas mengatakan, faktor manusia menjadi salah satu penyebab dominan terjadinya kebakaran. Kondisi tersebut dapat terjadi karena kesengajaan maupun kelalaian atau keteledoran.

BACA JUGA: 2 TPA Kebakaran dalam Waktu Berdekatan, WALHI Jateng Soroti Tata Kelola Sampah di Jawa Tengah

“Artinya bisa jadi ԁisengaja, bisa jadi karena kelalaian, keteledoran, itu kan pasti,” ujarnya.

Adapun kejadian karhutla tercatat terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah, di antaranya Banyumas, Sragen, dan Karanganyar. Kawasan yang terbakar pun berasal dari berbagai jenis hutan, baik hutan Perhutani maupun hutan rakyat.

Dari sisi kerugian, BPBD Jateng mencatat nilai kerugian akibat karhutla mencapai sekitar Rp2,8 miliar. Angka tersebut masih lebih kecil ԁibandingkan kerugian akibat kebakaran permukiman yang mencapai lebih dari Rp30 miliar.

“Dari sisi nilai kerugian paling banyak itu sekitar Rp2,8 miliar itu kerugian karhutla, tapi kerugian perumahan itu di atas Rp30 miliar,” ungkap Bergas.