Ekbis

Jelang Lebaran, Penjualan Emas di Kota Semarang Malah Lesu, Lebih Parah Dibanding Saat Pandemi

×

Jelang Lebaran, Penjualan Emas di Kota Semarang Malah Lesu, Lebih Parah Dibanding Saat Pandemi

Sebarkan artikel ini
Emas Lebaran
Suasana sepi di salah toko emas Dewi Sri yang terletak di Jalan Kanjengan Nomor 5, Kauman, Kecamatan Semarang Tengah. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Sepekan menjelang Lebaran, penjualan perhiasan emas di Kota Semarang terpantau masih lesu. Beberapa toko di Kauman terpantau sepi pembeli.

Ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI) Semarang, Bambang Yuwono. mengatakan, masyarakat biasanya berbondong-bondong menyerbu toko perhiasan emas mulai awal Ramadan. Namun, hingga H-6 Lebaran ini, penjualan emas di banyak gerai tak begitu mengalami kenaikan signifikan.

“Biasanya dari awal bulan Ramadan sampe 15 hari menjelang hari H Lebaran ramai sekali, tapi untuk tahun ini masih kosong,” katanya

Ia menyebut, situasi sepi terjadi hampir di semua pusat toko perhiasan seperti di Mranggen, Gang Pinggir, hingga Peterongan. Jika ada yang terlihat ramai, pasti tetap mengalami penurunan omzet daripada tahun sebelumnya.

BACA JUGA: Harga Emas Antam Tembus Rp1,2 Juta per Gram, APEPI Semarang: Tertinggi Sepanjang Sejarah

Bahkan, saking sepinya, Bambang menyebut jika penjualan sewaktu Pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu masih lebih baik ketimbang Lebaran tahun ini.

“Waktu Covid masih mending, sekarang perekonomian lesu sekali. Saya usaha sudah kurang lebih 40 tahun, tahun ini paling jelek,” keluhnya.

Biasanya, lanjut Bambang, menjelang Lebaran masyarakat akan membeli emas untuk persiapan mudik. Baik untuk investasi maupun penunjang penampilan.

Jenis emasnya pun bermacam-macam. Mulai dari cincin, anting-anting, gelang, kalung, hingga emas Antam.

Penjualan lesu jelang lebaran, emas sebenarnya bisa untuk investasi dan penunjang penampilan

Lebih lanjut, Bambang menjelaskan jika membeli emas untuk investasi maupun penunjang penampilan merupakan tradisi masyarakat Indonesia. Pasalnya, di luar negeri regulasi jual-beli emas tak semudah di dalam negeri.

“Di luar negeri beli ya sudah, kembalikan ke toko susah. Kalau di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, ada surat atau nggak ada surat bisa dijual,” ungkapnya.

Bambang mengatakan, 60 hingga 70 persen masyarakat Indonesia masih menganggap emas sebagai instrumen investasi. Salah satunya untuk menghindari berbelanja secara berlebihan. Tak terkecuali selama periode Ramadan hingga Lebaran.

BACA JUGA: Pelni Semarang Tambah Armada Mudik 2024, Ini Jadwal Kapal di Pelabuhan Tanjung Emas

Pun, ada anggapan membeli emas merupakan cara yang tepat untuk investasi sekaligus menunjang penampilan.

“Tradisi mereka beli emas untuk invest dan penampilan. Misal pulang ke desa, arisan, itu lebih keren, atau seandainya butuh uang mendadak misal sakit, daftarin anak ke sekolah, bisa jual cepet,” pungkasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp