“Tahun ini kuota lansia untuk Jawa Tengah sekitar 1.712 jemaah. Syaratnya usia di atas 65 tahun dan sudah mendaftar minimal lima tahun. Lansia itu belum tentu sakit. Banyak juga yang usianya 80 sampai 90 tahun tapi masih sehat dan mandiri,” katanya.
Ia menambahkan, pendamping lansia umumnya berasal dari anggota keluarga yang telah lebih dulu terdaftar sebagai calon jemaah haji.
Masa Tunggu Haji Kini 26 Tahun, Sistem Disamaratakan Nasional
Lebih jauh, Fitriyanto menyebut adanya perubahan sistem penentuan masa tunggu haji yang kini ԁisamaratakan secara nasional.
“Sekarang masa tunggu ԁisamaratakan menjadi 26 tahun di seluruh Indonesia. Jadi daftar di mana pun sama,” jelasnya.
Sebelumnya, masa tunggu di Jawa Tengah mencapai sekitar 30 tahun. Namun dengan perubahan sistem berbasis jumlah daftar tunggu (waiting list), provinsi ini justru mendapat tambahan kuota.
“Dulu kuota kita sekitar 30 ribu, sekarang menjadi 34.122 karena waiting list kita terbesar kedua setelah Jawa Timur,” ujarnya.
Menurutnya, kebijakan tersebut membawa konsekuensi berbeda bagi tiap daerah. Ada wilayah yang masa tunggunya maju, namun ada pula yang mundur.
“Yang maju tentu senang, yang mundur pasti protes. Tapi ini untuk pemerataan,” katanya.
Fitriyanto turut menyoroti meningkatnya minat masyarakat untuk menunaikan ibadah haji, termasuk dari kalangan usia muda. Ia menyebut, hal tersebut ԁipengaruhi masa tunggu yang panjang, sehingga masyarakat memilih mendaftar lebih awal.
“Sekarang banyak orang tua yang sudah mampu langsung mendaftarkan anaknya, bahkan sejak usia sekolah. Kalau tidak daftar sekarang, nanti menunggu 26 tahun lagi. Jadi orang sudah mulai berhitung,” jelasnya.
Tercatat, jemaah termuda tahun ini berusia 14 tahun dari Kabupaten Magelang, sementara jemaah tertua berusia 94 tahun asal Kabupaten Klaten.
Selain itu, pemerintah juga terus melakukan efisiensi biaya penyelenggaraan haji. Tahun ini, biaya haji ԁitetapkan sekitar Rp87 juta, turun ԁibanding tahun sebelumnya.
“Biaya haji tahun ini sekitar Rp87 juta, turun dari tahun sebelumnya. Ini bagian dari upaya efisiensi,” tandas Fitriyanto. (*)




