Politik

Jokowi Sukses Melenting jadi Presiden Berkat Megawati, Bambang Pacul: Setelah Ini Dia Cari Galah Baru

×

Jokowi Sukses Melenting jadi Presiden Berkat Megawati, Bambang Pacul: Setelah Ini Dia Cari Galah Baru

Sebarkan artikel ini
DPD PDIP Jawa Tengah | Pacul Jateng | Bambang Pacul Survei | Pacul Melenting
Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah, Bambang ‘Pacul’ Wuryanto, saat ditemui usai acara Kongkow Bambang Pacul di MG Setos, Kota Semarang, Senin, 22 Januari 2024. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kata ‘melenting’ dan ‘galah’ sangat melekat dengan kekoreaan ala Bambang ‘Pacul’ Wuryanto. Bahkan, Ketua Komisi III DPR RI itu menyebut sosok Presiden RI Joko Widodo juga ikut melenting dan mencari galah hingga menduduki jabatannya saat ini.

Dalam podcast Total Politik pada Jumat, 15 Maret 2024 lalu, galah Jokowi selama ini tak lain ialah Ketua Umum (Ketum) PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

“Pak Jokowi dulu dia melenting dari pengusaha mebel, jadi Wali Kota Solo. Melenting lagi jadi Gubernur DKI, melenting lagi jadi presiden, mau melenting ke mana lagi? Siapa galahnya? Bu Mega. Jangan lupa, lho, Bu Mega adalah galah untuk melenting,” ujar Bambang Pacul.

Usai Jokowi tak lagi menjabat sebagai Presiden RI beberapa bulan mendatang, Bambang Pacul meyakini bahwa ayah Gibran Rakabuming Raka itu akan mencari galah lainnya untuk melenting kembali. Menariknya, ucapan Bambang Pacul itu keluar pada September 2023 silam, yang mana Gibran belum mencalonkan dirinya sebagai Cawapres Prabowo Subianto secara resmi.

“Setelah melenting jadi presiden lalu setelahnya apa? Pasti, mohon maaf, analisisnya cari galah baru untuk melenting lagi. Ke mana? I don’t know (saya tidak tahu),” ujarnya.

BACA JUGA: Prabowo-Gibran Menang di Jawa Tengah, Gerindra Akui Faktor Jokowi jadi Modal Utama

Tak hanya itu, filsuf sekaligus akademisi, Rocky Gerung, yang kerap melontarkan kritik kerasnya kepada Jokowi pun Bambang Pacul soroti. Menurut sosok yang juga menjabat sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah itu, Rocky Gerung hanya berkutat pada teori semata. Sementara realitas di lapangan berbicara hal yang berbeda.

“Ilmu kehidupan itu agak beda. Pak Rocky Gerung marah-marah sama Jokowi, sampai keluar [kata kasar] di kalimatnya, kenapa? Karena Pak Rocky Gerung itu hobinya baca buku, bukunya banyak, mulai dari John Locke sampai locker kali ya, selalu keluarkan teori setiap ngomong, namun lawannya Pak Jokowi yang jabatannya presiden,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bambang Pacul pun merespons pernyataan Rocky Gerung yang mengatakan bahwa ia tersingkirkan lantaran tak mendapat nomor urut 1 dalam Pileg DPR RI 2024.

“Pak Rocky Gerung yang bilang kalau Pacul dibuang karena nomor urut  itu kekeliuran, mindset karena terlalu cerdas, [orang] ‘sekolah pagi’,” paparnya.

Beri respons menohok terhadap politik dinasti

Dalam tayangan itu, Bambang Pacul turut merespons politik dinasti yang saat ini tengah publik gadang-gadang sedang Jokowi bangun. Alih-alih mengkritik hal itu, Bambang Pacul justru memberikan pandangan yang berbeda.

Pihaknya membenarkan bahwa tujuan politik secara ideal yakni memakmurkan rakyat. Namun, lanjut Bambang Pacul, dalam kerangka praktisnya memang terkadang politik mencerminkan perebutan kekuasaan.

Kendati demikian, perebutan kekuasaan yang melekat pada politik dinasti itu pun tak lantas membuat keadaan negara menjadi buruk. Ia mengambil contoh apa yang terjadi di Azerbajian.

“Di Azerbajian yang berkuasa keluarga, tetapi rakyatnya makmur sentosa, tidak kekurangan apa pun, rakyatnya happy, sekolah gratis, makan tersedia, kesehatan terjamin, jadi apa? Apakah kemudian dinasti menjadi masalah bagi kita kalau dia punya kemampuan?” tegasnya.

BACA JUGA: Jelang Pilwalkot Surakarta 2024, Nama Kaesang Pangarep Putra Jokowi Masuk Bursa Calon Wali Kota

Dalam pandangannya, politik dinasti tak masalah selama kekuasaan tersebut tidak untuk kepentingan pribadi. Sehingga, lanjut Bambang Pacul, hal yang mesti masyarakat lakukan ialah menguji keputusan politik para pejabat.

“Kalau dia punya kuasa tapi tidak memenuhi syarat ya susah lah, itu yang kita uji keputusan politiknya. Ibas, Puan Maharani, AHY, Gibran, keputusan politiknya kita cek, punya kapasitas atau tidak. Jangan kemudian sentimental,” sambung Bambang Pacul.

Sementara terkait apakah keluarga Jokowi ikut melenting, Bambang Pacul memberikan jawaban berbeda.

“Bukan melenting, tapi disiapkan. Jadi kalau anak orang kaya disiapkan, generasi ke-3 biasanya patah karena disiapkan dulu kok, makanya patah. Korea macam Pacul itu melenting, agak melenting kecil-kecil lah, tapi korea jadi Ketua Komisi III ngeri bos, coba saya jadi Ketua Komisi III waktu umur 45 tahun? Pasti luar biasa,” terangnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp