SEMARANG, beritajateng.tv – Koordinator Eksospol Kelompok Studi Mahasiswa UIN Walisongo (KSMW), Farid Muhammad, mengungkapkan mahasiswa telah mengantongi identitas terduga pelaku dugaan kekerasan seksual di UIN Walisongo Semarang. Terduga pelaku disebut merupakan seorang dosen dari Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) dengan inisial “Z”.
Pernyataan itu disampaikan Farid saat aksi mahasiswa terkait dugaan kasus kekerasan seksual yang viral di lingkungan kampus UIN Walisongo.
“Identifikasinya itu baru indikasi. Kami belum bisa menyatakan dia sebagai pelaku, masih terduga. Nah, untuk inisial Z,” ujar Farid disela-sela aksi di Landmark UIN Walisongo Semarang pada Senin, 11 Mei 2026.
Farid juga menyinggung dugaan kasus serupa yang disebut telah beredar sejak tahun 2008. Namun, menurutnya, selama ini tidak ada penanganan tegas dari pihak kampus.
“Tahun-tahun sebelumnya itu sudah pernah mencuat, tetapi dari pihak kampus tidak ada penanganan yang tegas,” ujarnya.
BACA JUGA: Belum Ada Laporan, UIN Walisongo Jamin Keamanan Korban Dugaan Kekerasan Seksual oleh Dosen
Meski belum ada laporan resmi dari korban, Farid menyebut sejumlah mahasiswa dan alumni mulai berani angkat bicara di media sosial terkait dugaan kasus tersebut.
“Dari mahasiswa dan alumni sudah mulai speak up, cuma memang belum ada laporan resmi yang masuk,” ujarnya.
Farid memastikan KSMW bersama mahasiswa lain akan terus mengawal kasus tersebut hingga tuntas.
Mahasiswa Desak Kampus Bertindak Tegas
Atas dugaan kasus tersebut, mahasiswa mendesak agar kampus menjatuhkan sanksi tegas apabila terduga pelaku terbukti melakukan pelanggaran.
“Kami mengharapkan sanksi tegas berupa pemecatan secara tidak hormat karena perilakunya sudah tidak terhormat,” tegas Farid.
Dalam aksi diskusi tersebut, mahasiswa menyatakan menolak keras segala bentuk kekerasan seksual di lingkungan kampus. Mereka juga mendesak rektorat, PSGA, dan Satgas PPKS mengambil langkah konkret.
Mahasiswa menuntut adanya jaminan keamanan dan kenyamanan di lingkungan akademik serta langkah mitigasi yang lebih serius terhadap kasus kekerasan seksual di kampus.
“Terkait penanganan kekerasan seksual di UIN Walisongo ke depan harus lebih serius,” pungkasnya.





