“Silahkan untuk keluarga pendaki apabila ada hal sesuatu hal yang bisa ditanyakan, bisa datang ke posko pengaduan,” ucapnya.
Dia mengatakan, pendataan pendaki dari jalur Gajah Mungkur dan Garung Buto terus tim lakukan. Hal ini untuk memastikan keberadaan mereka.
Penutupan jalur pendakian, kata Nana, berlaku hingga ada konfirmasi bahwa kawasan tersebut telah aman untuk kembali berfungsi normal.
Kebakaran Terjadi di Ketinggian 2.500 Mdpl
Berdasarkan laporan situasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo, kebakaran Gunung Sumbing pada Senin, 19 Oktober 2026 sekitar pukul 15.00 WIB. Informasi awal berasal dari porter pendakian Gunung Sumbing melalui jalur Gajah Mungkur, Desa Lamuk, Kecamatan Kalikajar.
Lokasi kebakaran berada di sisi timur Gunung Sumbing, tepatnya di petak 29 RPH Kleseman, BKPH Wonosobo, KPH Kedu Utara, dengan ketinggian sekitar 2.500 hingga 2.709 meter di atas permukaan laut (mdpl).
BACA JUGA: Tangis Haru Sambut Pelari 150 Kilometer dari Gunung Lawu ke Semarang, Warga Teriakkan Tolak Geotermal
Tim gabungan dari sejumlah basecamp telah berupaya melakukan pemadaman secara manual hingga pukul 21.00 WIB. Api belm hasil padam karena kondisi tidak memungkinkan untuk operasi pada malam hari.
Dalam laporan tersebut, BPBD menyebut api terus meluas dan angin bertiup cukup kencang. Sementara itu, luas area hutan yang terbakar masih belum tim ketahui.
BPBD bersama unsur gabungan menjadwalkan penanganan dan pemadaman lanjutan pada Selasa, 20 Oktober 2026.
BPBD Catat Nihil Korban Jiwa dan Luka
Dalam laporan situasi yang BPBD Wonosobo susun, belum terdapat laporan korban jiwa maupun korban luka akibat kebakaran Gunung Sumbing.
Sementara prakiraan cuaca yang tercantum pada laporan BPBD pukul 19.00 WIB, cerah berawan dengan suhu 19 derajat Celsius. Kecepatan angin tercatat 18,5 kilometer per jam dari arah selatan.
Kondisi angin yang cukup kencang menjadi salah satu kendala dalam penanganan kebakaran. Terlebih operasi pemadaman pada malam hari belum memungkinkan.




