Bahaya Paparan Konten Media Sosial Tanpa Pengawasan Orang Tua
Menurut Kiki, paparan konten di media sosial dapat menjadi faktor yang memperkuat dorongan negatif. Terutama ketika anak sedang mengalami tekanan emosional.
“Bisa saja dia sudah punya masalah, lalu melihat konten di media sosial tentang orang mengakhiri hidup, kemudian terinspirasi,” katanya.
Kiki menilai kondisi di Indonesia memang berbeda karena banyak anak sudah menggunakan gadget sejak usia dini, terutama karena alasan praktis seperti komunikasi, transportasi online, maupun tuntutan sekolah.
Namun ia mengingatkan bahwa kemudahan jangka pendek bisa berujung masalah besar di kemudian hari.
“Menghindari [memberikan gadget] itu tidak repot, [kalau diberikan] itu malah membuat kerepotan yang lebih besar lagi. Belum kecanduannya, belum efek dari gadget itu sendiri,” ujarnya.
BACA JUGA: Alarm Radikalisme Pelajar, 22 Siswa di Jawa Tengah Terpapar Lewat Medsos dan Game Online
Ia juga menegaskan bahwa orang tua tidak perlu merasa tertekan jika anak membandingkannya dengan teman sebaya yang sudah memiliki ponsel. Setiap keluarga memiliki aturan masing-masing sesuai nilai dan kesiapan anak.
“Setiap keluarga punya peraturan yang beda-beda. Peran orang tua memberi pemahaman ke anak itu yang penting,” katanya.
Selain pembatasan gadget atau smartphone, faktor terpenting dalam perkembangan mental anak adalah kualitas hubungan dengan orang tua. Ia menekankan pentingnya komunikasi terbuka dan kemampuan orang tua menjadi pendengar yang baik. (*)
Editor: Farah Nazila





