Kesehatan

Khawatir Paparan Konten Medsos, Psikolog Sarankan Anak Punya Gadget Pribadi Minimal Usia 16 Tahun

×

Khawatir Paparan Konten Medsos, Psikolog Sarankan Anak Punya Gadget Pribadi Minimal Usia 16 Tahun

Sebarkan artikel ini
medsos menghasilkan uang
Kini ada banyak medsos menghasilkan uang, dan seorang content creator hanya perlu kreatif dan terus konsisten dalam membuat konten. (Foto: Freepik)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pemberian gadget, khususnya smartphone, pada anak usia dini kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kesehatan mental generasi muda dan maraknya kasus bunuh diri di Indonesia.

Psikolog Klinis Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Dr Amino Gondohutomo Semarang, Laurencia Rizki Marhendrawati, menyarankan orang tua mengikuti rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait penggunaan perangkat digital pada anak.

Psikolog yang akrab dengan sapaan Kiki itu menjelaskan, WHO menyarankan anak memiliki gadget pribadi secara mandiri minimal pada usia 16 tahun. Hal ini karena tingkat kematangan emosi dan kontrol diri anak di bawah usia tersebut masih belum optimal.

“Berdasarkan WHO, anak boleh pegang gadget secara mandiri atau punya gadget pribadi itu minimal di usia 16 tahun. Di bawah usia itu mereka belum matang dan sangat perlu pengawasan,” jelasnya saat beritajateng.tv konfirmasi Sabtu, 21 Februari 2026.

BACA JUGA: Komdigi Jateng Ungkap Hoaks dan Provokasi soal Opsen Pajak Kendaraan di Medsos, TikTok Terbanyak

Meski sudah memasuki usia remaja, pengawasan orang tua tetap penting dan anak tidak boleh dilepas sepenuhnya.

“Usia 16 tahun itu pun masih dalam pengawasan juga, tidak terlepas sepenuhnya,” tambahnya.

Peringatan serupa juga disampaikan para pakar kesehatan global. Salah satunya dalam penelitian yang diterbitkan Journal of the Human Development and Capabilities pada Juli 2025 yang berjudul “Protecting the Developing Mind in a Digital Age: A Global Policy Imperative.”

Dalam penelitian tersebut, penggunaan smartphone pada anak pra-remaja (preteens) berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, mulai dari kecemasan, depresi, gangguan tidur, hingga paparan konten berbahaya di media sosial.

Para ahli bahkan menganjurkan orang tua menunda pemberian smartphone hingga anak memasuki masa sekolah menengah atau remaja.

Keadaan tersebut ternilai dapat mempengaruhi pola pikir anak-anak. Penelitian itu menjelaskan bahwa anak, terutama anak perempuan, bisa saja terpapar konten-konten negatif sehingga menimbulkan pikiran untuk bunuh diri, kontrol emosi yang buruk, kepercayaan diri yang menurun.

Bahaya Paparan Konten Media Sosial Tanpa Pengawasan Orang Tua

Menurut Kiki, paparan konten di media sosial dapat menjadi faktor yang memperkuat dorongan negatif. Terutama ketika anak sedang mengalami tekanan emosional.

“Bisa saja dia sudah punya masalah, lalu melihat konten di media sosial tentang orang mengakhiri hidup, kemudian terinspirasi,” katanya.

Kiki menilai kondisi di Indonesia memang berbeda karena banyak anak sudah menggunakan gadget sejak usia dini, terutama karena alasan praktis seperti komunikasi, transportasi online, maupun tuntutan sekolah.

Namun ia mengingatkan bahwa kemudahan jangka pendek bisa berujung masalah besar di kemudian hari.

“Menghindari [memberikan gadget] itu tidak repot, [kalau diberikan] itu malah membuat kerepotan yang lebih besar lagi. Belum kecanduannya, belum efek dari gadget itu sendiri,” ujarnya.

BACA JUGA: Alarm Radikalisme Pelajar, 22 Siswa di Jawa Tengah Terpapar Lewat Medsos dan Game Online

Ia juga menegaskan bahwa orang tua tidak perlu merasa tertekan jika anak membandingkannya dengan teman sebaya yang sudah memiliki ponsel. Setiap keluarga memiliki aturan masing-masing sesuai nilai dan kesiapan anak.

“Setiap keluarga punya peraturan yang beda-beda. Peran orang tua memberi pemahaman ke anak itu yang penting,” katanya.

Selain pembatasan gadget atau smartphone, faktor terpenting dalam perkembangan mental anak adalah kualitas hubungan dengan orang tua. Ia menekankan pentingnya komunikasi terbuka dan kemampuan orang tua menjadi pendengar yang baik. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp