Jateng

Komdigi Jateng Ungkap Hoaks dan Provokasi soal Opsen Pajak Kendaraan di Medsos, TikTok Terbanyak

×

Komdigi Jateng Ungkap Hoaks dan Provokasi soal Opsen Pajak Kendaraan di Medsos, TikTok Terbanyak

Sebarkan artikel ini
Pembatasan Medsos Anak | Live TikTok Hoaks
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Tengah, Agung Hariyadi, saat dijumpai langsung di kantornya, Jumat, 29 Agustus 2025. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Komunikasi dan Digital (Komdigi) Jawa Tengah menyebut media sosial TikTok menjadi platform dengan penyebaran hoaks, misinformasi, maupun provokasi terbanyak terkait kenaikan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) akibat opsen di Jawa Tengah.

Salah satu provokasi yang ramai beredar adalah seruan “Stop Bayar Pajak” yang muncul dalam berbagai konten video.

Kepala Dinas Komunikasi dan Digital Jawa Tengah, Agung Hariyadi, mengatakan pihaknya rutin melakukan patroli media sosial untuk memantau unggahan yang dinilai tidak sesuai fakta.

BACA JUGA: Pajak Naik Padahal Nilai Kendaraan Menyusut Tiap Tahun, Bapenda Jateng Beberkan Skema NJKB dan Opsen

“Kami selama ini melakukan patroli medsos. Tim kami mencermati postingan-postingan yang kami anggap disinformasi, lalu kami lakukan penstempelan hoaks ataupun disinformasi. Jadi yang tidak sesuai dengan fakta, yang menggiring opini dan menyesatkan, itu kami monitor dan kami telaah,” ujar Agung saat beritajateng.tv hubungi via WhatsApp, Rabu, 18 Februari 2026.

Menurutnya, jika suatu konten dinilai memuat informasi yang tidak sesuai fakta dan menggiring opini negatif, pihaknya langsung memberi label.

“Kalau memang disinformasi dan tidak sesuai fakta, langsung kami berikan stempel hoaks. Kami beri tanda disinformasi, kami stempel merah,” tegasnya.

TikTok Paling Banyak Misinformasi Opsen PKB, Komdigi Akui Tak Punya Kewenangan Take Down Konten Hoaks

Agung mengungkap, dari hasil pemantauan tim siber Komdigi Jawa Tengah, platform dengan temuan terbanyak adalah TikTok.

“Itu rata-rata di TikTok paling banyak. TikTok paling banyak di situ dan pakai video kan. Ada yang AI, ada yang riil juga, tapi informasi yang disampaikan itu tidak sesuai dengan fakta,” jelasnya.

Ia menyebut, tidak semua konten sepenuhnya salah secara substansi. Namun, kata dia, penyajian beberapa konten dinilai membangun opini negatif yang menyesatkan.

“Walaupun ada juga yang substansinya itu substantif, cuman cover-nya tidak sesuai dengan fakta dan pengiringan opini negatif. Nah, itu yang kami cermati,” kata Agung.