SEMARANG, beritajateng.tv – Suasana berbeda tampak di lingkungan SDN Gajahmungkur 02 Semarang pada Jumat, 13 Februari 2026 pagi. Ratusan siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 tumpah ruah mengikuti Kirab Budaya Ramadan 1447 H, agenda tahunan yang telah menjadi “branding” sekolah dalam menyambut bulan suci dengan sentuhan kearifan lokal.
Para siswa berjalan tertib menyusuri jalan lingkungan dengan penuh semangat. Dua siswa di barisan depan memegang spanduk bertuliskan “Kirab Budaya Ramadan 1447 H SD Negeri Gajahmungkur 02, Melestarikan Tradisi, Mengukuhkan Iman.”
Tak hanya itu, mereka tampil memukau dengan kreasi pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia yang dibuat dari bahan daur ulang.
Ada yang mengenakan busana adat Jawa, lengkap dengan blangkon dan kain batik, ada pula yang mengenakan kostum bernuansa Sumatera hingga Indonesia Timur.
BACA JUGA: Pemkab Semarang Sesuaikan Jam Kerja ASN Selama Ramadan 2026, Pelayanan Tetap Maksimal
Gaun warna-warni dari plastik bekas dan kertas koran yang disulap menjadi busana adat menjadi daya tarik tersendiri.
Kepala SDN Gajahmungkur 02, Manek Intan Permata Sari, menjelaskan bahwa kirab ini merupakan agenda rutin tahunan sekolah dalam rangka menyambut Ramadan.
“Kegiatan Kirab Budaya ini memang sudah menjadi agenda tahunan di sekolah kami. Bisa dikatakan ini branding sekolah kami untuk menyambut bulan suci Ramadan. Kalau yang lain mungkin hanya tarhib seperti biasa, tetapi kami menambahkan unsur kearifan lokal. Jadi melestarikan budaya sekaligus menyambut Ramadan dengan sukacita,” ujarnya usai pawai.
Inovasi Lomba Gunungan Jajan atau Snack pada Kirab Budaya Ramadan SDN Gajahmungkur 02 Semarang
Tahun ini, kirab terasa lebih istimewa dengan adanya inovasi lomba gunungan snack. Puluhan gunungan yang dihias dari aneka makanan ringan diarak bersama rombongan.
“Yang baru tahun ini ada lomba gunungan. Supaya tidak monoton, kami membuat pembaruan. Alhamdulillah wali murid dan anak-anak sangat antusias menghias dan membuat gunungannya sebagus mungkin, karena ada juara 1, 2, dan 3,” jelas Intan.
Gunungan-gunungan tersebut tampak berjejer di belakang barisan siswa, dibawa dengan penuh kebanggaan. Warna-warni kemasan snack berpadu menjadi simbol kebersamaan dan kreativitas.
BACA JUGA: Berikut Amalan Sunnah Ramadan yang Membawa Pahala Berlipat Ganda, Bulan Penuh Berkah
Tak hanya siswa, kirab Ramadan kali ini juga melibatkan wali murid secara aktif. Jika sebelumnya orang tua hanya mendampingi di pinggir jalan atau menjemput, kini mereka ikut berjalan dalam barisan.
“Kalau dulu wali murid hanya membersamai di jalan, sekarang ikut di barisan. Jadi kami benar-benar melibatkan semuanya,” kata Intan.
Keterlibatan orang tua ini menambah semarak suasana. Warga sekitar pun tampak antusias menyaksikan pawai budaya yang melintas.
Edukasi Cinta Budaya dan Lingkungan
Konsep pakaian adat berbahan daur ulang menjadi nilai edukatif tersendiri. Meski mengusung tema budaya, sekolah memberi kebebasan setiap kelas dan paguyuban untuk berkreasi.
“Konsepnya budaya, tetapi kami kembalikan ke paguyuban [kelas] masing-masing. Silakan kelas berkreasi membuat semeriah mungkin. Harapannya anak-anak lebih mencintai budaya daerah, khususnya budaya Jawa karena kita di Semarang. Namun juga mengenal budaya daerah lain di Indonesia,” terangnya.
Selain menanamkan cinta budaya, penggunaan bahan daur ulang juga menjadi pembelajaran tentang kepedulian lingkungan sejak dini.
BACA JUGA: Sambut Ramadan, Hotel Ciputra Semarang Hadirkan Paket Buka Puasa Berkah dan Hampers Eksklusif
Lebih dari sekadar pawai, kirab ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat anak-anak dalam menyambut Ramadan.
“Harapannya anak-anak memiliki semangat menyambut Ramadan. Jadi ketika nanti sudah memasuki bulan suci, animonya tetap sama, semangatnya juga tetap sama,” pungkas Intan.
Kirab Budaya Ramadan SDN Gajahmungkur 02 juga menggandeng berbagai elemen masyarakat. Sekolah berkolaborasi dengan TK Tunas Mulia yang berada di sekitar lokasi, Ketua RT setempat, Babinkamtibmas, Babinsa, hingga GP Ansor. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





