Gaya Hidup

Kisah Haru Penuh Emosi, Begini Review Novel Populer Berjudul Laut Bercerita 

×

Kisah Haru Penuh Emosi, Begini Review Novel Populer Berjudul Laut Bercerita 

Sebarkan artikel ini
Novel Laut Bercerita
Novel Laut Bercerita. Ig/@espemuda

SEMARANG, beritajateng.tv – Laut Bercerita merupakan sebuah Novel yang terbit pertama kali pada tahun 2017.

Siapa sangka, novel yang semulanya sekedar oretan inspirasi semata ternyata mampu mendapatkan penghargaan bergengsi di Asia Tenggara.

Dari situlah kita bisa melihat bagaimana kualitas novel tersebut yang merupakan karya dari Leila S. Chudori.

BACA JUGA: Kumpulan Fakta Menarik Film Pelangi di Mars, Siap Tayang Awal Tahun Mendatang!

Banyak yang tertarik untuk membacanya bukan karena gaya menulisnya yang bagus tetapi isi cerita penuh makna.

Berikut ini review seputar novel tersebut,

Review Novel Laut Bercerita

Sebelum tergarap sebagai film panjang, Laut Bercerita sebenarnya sudah lebih dulu hadir dalam format film pendek pada 2017.

Karya dari seorang produser Dian Sastrowardoyo dan Wisnu Darmawan itu selalu ramai dengan penonton setiap kali diputar di lingkungan kampus maupun pusat kebudayaan.

Besarnya antusiasme tersebut kemudian mendorong Pal 8 Pictures untuk membuat versi layar lebarnya.

Dengan cakupan cerita yang lebih luas, kedalaman emosi yang lebih kuat, serta tampilan visual yang lebih megah, film ini diprediksi menjadi salah satu perilisan paling berpengaruh pada 2026.

Novel ini tidak sekadar bercerita tentang seseorang yang hilang, tetapi juga menyingkap keberanian, pengkhianatan, cinta keluarga, serta jejak luka yang tertinggal.

Keistimewaannya terletak pada bagaimana kisah yang gelap ini disampaikan dengan bahasa yang lembut dan mengena.

Tidak terasa berat atau rumit, namun tetap memberikan dampak emosional yang mendalam.

Novel ini bukan sekadar berkisah tentang seseorang yang menghilang. Ia juga menggambarkan sosok yang tetap menyuarakan kebenaran, meski suaranya seakan datang dari dasar laut.

BACA JUGA: Edukasi Sejarah ke Pelajar, Wakil Ketua DPRD Jateng Dorong Guru Gelar Nobar Film Dokumenter “Batang Rewind”

Suara itu mungkin lirih, namun tetap hidup dan membekas dalam ingatan kita semua.

Untuk memperjuangkan keadilan, selalu ada harga yang harus di bayar. Pada masa Orde Baru, hal itu menjadi semakin berat karena masyarakat tidak memiliki kebebasan berpendapat.