“Saya mendapat tugas untuk membantu memantau respons selama uji klinis. Tempat pengembangan tidak hanya di Universitas Oxford,” jelas Indra yang juga alumni Djarum Beswan dari program Djarum Beasiswa 2011/2012.
Setelah uji klinis terbukti aman, vaksin Covid-19 kemudian memasuki fase produksi di perusahaan farmasi Astrazeneca, dengan skala produksi yang jauh lebih besar.
“Setelah itu, ada proses manufaktur skala besar. Selain saya, ada juga Karina (warga negara Indonesia) yang berpartisipasi dalam pengembangan vaksin,” kata Indra.
Tikungan dan putaran serta tantangan untuk membuat vaksin
Selama karier sebagai peneliti vaksin, Indra mengaku menghadapi banyak tantangan, termasuk terlibat dalam pengembangan vaksin Covid-19.
Namun, tantangannya sebenarnya menjadi indera sebagai kesempatan berharga untuk belajar banyak tentang teknologi vaksin terbaik di dunia.
“Vaksin ini adalah teknologi tinggi, jadi saya memiliki kesempatan untuk dapat mempelajari banyak hal yang berkaitan dengan proses pembuatan vaksin, kemudian studi klinis dari orang-orang terbesar di dunia yang mereka benar-benar maju dengan teknologi vaksinasi,” jelasnya panjangnya. .
Selain vaksin Covid-19, Indra juga mengalami banyak tantangan bahkan kegagalan ketika terlibat dalam pengembangan vaksin malaria. Pada saat itu ia mengambil studi doktoralnya.
Berbagai tahapan uji yang membutuhkan kesabaran harus dilewati sampai Indra berhasil menemukan vaksin yang paling tepat untuk mengatasi malaria.
“Saya telah mencoba merancang beberapa vaksin malaria, mungkin ada 10-12 vaksin yang saya coba. Dari banyak, mungkin hanya 1-2 memiliki sinyal prospektif. Itu juga tidak selalu berhasil ketika pada manusia,” Indra tertutup. (AK / EL)