Gaya Hidup

Komunitas Salatiga Junkyard Market Hadirkan Pasar Mampir, Ruang Niaga-Interaksi Pecinta Barang Antik

×

Komunitas Salatiga Junkyard Market Hadirkan Pasar Mampir, Ruang Niaga-Interaksi Pecinta Barang Antik

Sebarkan artikel ini
Pasar Mampir Salatiga
Suasana pembukaan perdana Pasar Mampir di Jalan Adi Sucipto, Kota Salatiga, Jumat, 6 Februari 2026 malam. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv)

SALATIGA, beritajateng.tv – Para penjual barang antik (vintage) di Kota Salatiga memiliki kiat unik untuk menggaet pelanggan. Tergabung dalam Komunitas Salatiga Junkyard Market, mereka menggagas “Pasar Mampir”, sebuah ruang niaga sekaligus sarana interaksi bagi para pencinta benda lawas.

Untuk edisi perdana, Pasar Mampir dibuka di trotoar Jalan Adi Sucipto, tepatnya di depan Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Salatiga. Pasar ini rencananya hadir sebulan sekali, setiap Jumat pekan pertama mulai pukul 19.00 hingga 23.00 WIB, selama cuaca mendukung.

Salah satu inisiator, Rasyd Ridho, mengungkapkan bahwa komunitas ini merupakan perkumpulan pelapak barang bekas yang memiliki nilai kelangkaan tinggi.

BACA JUGA: Raup Omzet Puluhan Juta, Begini Cara Penjual Barang Antik di Kota Lama Temukan Benda Jadul

“Kami menjual barang dengan vibes langka yang kini semakin sulit didapatkan di pasaran umum,” jelas Rasyd di lokasi pasar, Jumat, 6 Februari 2026 malam.

Berbagai koleksi dipajang di sini, mulai dari kaset rilisan fisik, poster, radio klasik, pakaian, hingga aksesori motor jadul. Ada pula merchandise band, kamera analog, walkman, discman, vinyl, buku, hingga mainan antik.

“Bahkan bagi yang mencari onderdil atau sparepart kendaraan jadul, kami juga menyediakannya,” tambah pemilik lapak Bekas Anyar tersebut.

Pasar Mampir Salatiga Kampanyekan Reduce, Reuse, Recycle

Menurut Rasyd, Pasar Mampir bertujuan meningkatkan ekonomi lokal bagi para anggota komunitas. Selain itu, kegiatan ini menjadi ruang kreatif untuk mengampanyekan konsep reduce, reuse, recycle (3R).

Untuk rintisan awal, baru terdapat tujuh pelapak yang bergabung, yakni Bekas Anyar, Warunk Second, Barang Dua Dunia, Bakoel Sembarangan, Rongsok Djaya, Barang X Bekas, dan Kasette Pae. Jika respons masyarakat positif, tidak menutup kemungkinan lokasi pasar akan berpindah-pindah (pop-up market).

Mengenai penggunaan trotoar, Rasyd menjelaskan bahwa pihaknya memanfaatkan ruang tersebut karena belum memiliki tempat permanen. “Lalu lintas pejalan kaki di sini tidak terlalu padat, dan kami hanya buka sementara selama empat jam pada malam hari,” katanya.

BACA JUGA: Dari Garasi Jadi Kafe Vintage, Gerbang Coffee Semarang yang Homey Favorit Anak Muda!

Dodo, pemilik lapak Kasette Pae, menambahkan bahwa peminat barang vintage masih sangat besar. Pasar Mampir menjadi jembatan penting untuk memperkuat pasar luring (offline) di tengah gempuran marketplace.

“Selain berjualan daring, Pasar Mampir adalah cara kami bertemu langsung dengan sesama penghobi dan pembeli,” tutur Dodo.

Iwan Ahmad, salah seorang pengunjung, mengaku mampir karena penasaran saat perjalanan pulang. “Ini menarik karena barang lawas apa pun ada. Tadi sempat cari kaset penyanyi lawas, walau belum ada yang cocok, suasananya sangat seru,” ungkapnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp