“Buah-buahan naik semua. Semangka, Pepaya itu naik Rp 3 ribu sampai Rp 5 ribu,” ujarnya.
Konsumen Cenderung Memilih Produk Termurah
Fenomena serupa juga terlihat pada usaha minuman kopi keliling yang Fitra (19) jalankan sejak 2023. Meski mengaku belum merasakan dampak langsung dari pelemahan rupiah, ia melihat adanya perubahan perilaku konsumen dalam berbelanja.
Menurut Fitra, volume penjualan saat ini memang lebih rendah dibanding masa awal usahanya berkembang.
“Dulu setiap hari bawa antara 600 cup. Sekarang sekitar cuma 200 cup,” kata Fitra.
Namun dalam setahun terakhir, penjualan tersebut relatif stabil. Yang berubah justru pilihan konsumen yang semakin mempertimbangkan harga.
“Biasanya yang paling murah. Kopi susu biasa yang Rp8.000 paling banyak dibeli,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan masyarakat masih melakukan konsumsi, tetapi lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran dan cenderung memilih produk dengan harga yang paling terjangkau.
BACA JUGA: Sembelih 17 Sapi dan 20 Kambing, Kurban PDIP Jateng Sasar Wong Cilik di Tengah Ekonomi Sulit
Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian karena berpotensi memicu kenaikan harga berbagai barang, terutama yang memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Di tingkat pelaku usaha mikro, kondisi tersebut mulai terasa melalui naiknya harga kebutuhan pendukung usaha dan melemahnya daya beli masyarakat. Para pedagang berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi serta mengendalikan kenaikan harga agar aktivitas usaha kecil tetap berjalan dan konsumsi masyarakat tidak semakin tertekan. (*)
Editor: Farah Nazila





