“Segala macam benda-benda berharga untuk bisa digantung apa, disingkirkan terlebih dahululah. Atau punya tempat sementara yang bisa dijadikan tempat evakuasi saat terjadi banjir, maka keluarga ini bisa akan bergeser ke saudaranya atau ke tetangganya kah harus sudah dilakukan itu,” tandasnya.
900 ribu hektare lahan di Jawa Tengah rawan banjir, berikut daerah yang paling potensial
Sebelumnya, Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Jawa Tengah, Muhamad Chomsul, menuturkan ada 935.504 hektare tanah di Jawa Tengah yang rawan banjir.
Pihaknya menyebut, total luasan daerah rawan banjir itu tersebar di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Terutama di daerah Pantura yang memiliki kontur rendah akan lebih mudah terimbas banjir karena mendapat luapan air dari hulu.
“Daerah yang berpotensi rawan banjir di Jawa Tengah memang daerah Pantura karena konturnya rendah. Misalkan Kota Semarang bagian utara, daerah pesisir, kemudian Demak juga,” ungkap Chomsul.
Selain daerah tersebut, wilayah pesisir serta kabupaten/kota yang memiliki daerah aliran sungai (DAS) juga rawan banjir, seperti Pati, Kudus, Pekalongan, Klaten, dan lainnya.
BACA JUGA: DPU Kota Semarang Percepat Pengerukan Sedimen Kali Sringin, Cegah Banjir Musim Hujan
“Pati juga ada daerah aliran Sungai Juwana, kemudian Kudus ada Sungai Wulan, juga Pekalongan. Klaten di sana juga sering karena ada Sungai Dengkeng, lalu Banyumas. Itu daerah yang memang memiliki potensi rawan banjir untuk musim hujan di Jateng,” bebernya.
Pihaknya merinci daerah rawan banjir menjadi tiga kelompok, yakni kelas rendah, sedang dan, tinggi.
Menurut keterangannya, Cilacap menjadi daerah yang memiliki luas tertinggi pada kelas rendah dengan luas 2.384 hektare.
Kemudian pada kelas sedang, luas tertinggi bahaya banjir adalah Grobogan seluas 47.626 hektare. Sedangkan pada kelas tinggi ada Demak dengan luas 53.960 hektare.
Tak hanya banjir biasa, banjir bandang juga hantui Jateng
Lebih lanjut, pihaknya menyebut di Jawa Tengah juga ada daerah yang rawan terjadi banjir bandang, terutama wilayah yang daerah aliran sungai (DAS) lalui.





