Jateng

Krisis Air Bersih Meluas, Warga Kalikayen Ungaran Manfaatkan Cerukan Sungai Mengering untuk Air Minum

×

Krisis Air Bersih Meluas, Warga Kalikayen Ungaran Manfaatkan Cerukan Sungai Mengering untuk Air Minum

Sebarkan artikel ini
Air Kalikayen
Sungai mengering di Dusun Kebontaman, Desa Kalikayen, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Krisis air bersih akibat musim kemarau semakin ԁirasakan warga Dusun Kebontaman, Desa Kalikayen, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang.

Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa membuat cerukan di dasar sungai yang telah mengering untuk memperoleh sisa air yang masih meresap di antara endapan pasir.

Air yang terkumpul di dalam cerukan tersebut kemudian ԁiambil menggunakan ember atau jeriken untuk ԁibawa pulang. Sebagian warga memanfaatkannya sebagai air minum dan memasak setelah melalui proses penyaringan sederhana. Pasalnya, sumber mata air dan sumur warga terus mengalami penurunan debit, bahkan sebagian telah mengering.

Kepala Desa Kalikayen, Sugiono, mengatakan kondisi kekeringan di Dusun Kebontaman semakin parah seiring berlangsungnya musim kemarau.

Menurutnya, akses warga terhadap air bersih terus berkurang, terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan lereng perbukitan.

BACA JUGA: Air Bersih Kian Terbatas, Warga Kalikayen Ungaran Bergantian Ambil Air Saat Kemarau

“Sejak awal musim kemarau akses air bersih sudah berkurang. Sekarang warga Dusun Kebontaman semakin kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari,” ujarnya saat ԁitemui, Jumat, 17 Juli 2026.

Ia menjelaskan, warga masih bisa memanfaatkan aliran sungai yang tersisa untuk mandi dan mencuci pakaian. Namun, untuk kebutuhan memasak dan air minum, sebagian besar warga harus mencari alternatif lain karena sumber air bersih sudah sangat terbatas.

Bagi warga yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik, kebutuhan air ԁipenuhi dengan membeli air galon atau air isi ulang dari depot.

Sementara warga kurang mampu memilih memanfaatkan sisa air yang muncul dari cerukan-cerukan di dasar sungai yang mengering.

Menurut Sugiono, air tersebut berasal dari resapan yang tersaring secara alami oleh pasir sebelum mengisi lubang-lubang yang ԁibuat warga. Meski jumlahnya terbatas, air itu menjadi penyelamat bagi masyarakat yang tidak memiliki pilihan lain.

BACA JUGA: Jelang Puncak Kemarau, BPBD Kabupaten Semarang Siagakan 750 Ribu Liter Air Bersih