Jateng

Lalu Lintas Pedagang Ternak Jadi Sorotan, Semarang Perketat Pengawasan PMK Jelang Iduladha

×

Lalu Lintas Pedagang Ternak Jadi Sorotan, Semarang Perketat Pengawasan PMK Jelang Iduladha

Sebarkan artikel ini
sapi qurban
Sapi-sapi kurban saat diberi makan di kandang Kompleks Pasar Induk MAJT-MAS, Kamis, 21 Mei 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Menjelang Iduladha 2026, Dinas Pertanian Kota Semarang meningkatkan pengawasan terhadap penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak. Selain vaksinasi, perhatian kini difokuskan pada lalu lintas pedagang dan pembeli ternak yang dinilai berpotensi mempercepat penularan penyakit.

Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Shoti’ah, mengatakan PMK masih menjadi ancaman serius karena penularannya sangat cepat antarhewan, terutama saat aktivitas jual beli ternak mulai meningkat menjelang hari raya kurban.

“PMK ini penyebarannya sangat mudah dan sangat cepat. Karena itu edukasi kepada peternak soal biosecurity terus kami lakukan,” ujar Shoti’ah saat beritajateng.tv hubungi pada Sabtu, 23 Mei 2026.

Menurutnya, mobilitas blantik atau pedagang ternak yang berpindah-pindah kandang tanpa pengawasan kesehatan menjadi salah satu titik rawan penyebaran PMK.

“Kadang ada blantik atau pembeli yang mondar-mandir dari satu kandang ke kandang lain. Itu juga bisa membawa penularan,” katanya.

BACA JUGA: Libur Panjang Idul Adha 2026, Pertamina Jamin Pasokan BBM dan LPG di Jateng-DIY Aman

Untuk mencegah lonjakan kasus, Dinas Pertanian rutin melakukan vaksinasi sekaligus pengobatan terhadap ternak yang terpapar PMK. Pengawasan kesehatan hewan kurban juga diperketat menjelang distribusi ternak ke masyarakat.

Beberapa waktu lalu, pihaknya sempat menemukan tiga kasus sapi yang terindikasi PMK di Kota Semarang. Bahkan satu pedet atau anak sapi dilaporkan mati akibat gejala yang mengarah pada penyakit tersebut.

“Kemarin sempat ada tiga ekor sapi yang terindikasi PMK. Ada satu pedet yang mati, tapi sekarang kondisi ternak yang sakit sudah membaik,” jelasnya.

Meski demikian, Shoti’ah menilai kesadaran peternak terhadap penanganan PMK mulai meningkat daripada awal kemunculan wabah beberapa tahun lalu. Edukasi yang terus pemerintah lakukan membuat peternak lebih cepat mengenali gejala penyakit dan melakukan penanganan dini.

“Sekarang peternak sudah mulai paham ciri-ciri PMK dan langkah yang harus terlaksana ketika ternaknya sakit,” ujarnya.

Di tengah kewaspadaan terhadap PMK, kebutuhan hewan kurban di Kota Semarang perkiraannya meningkat sekitar 10 persen daripada tahun sebelumnya.

Berdasarkan data tahun 2025, jumlah hewan kurban di Kota Semarang tercatat mencapai 2.742 ekor sapi, 9.295 kambing, 568 domba, dan lima kerbau.

BACA JUGA: Tradisi Unik Idul Adha di Bustaman Semarang: Ahli Bersihkan Kepala dan Kaki Hewan Kurban

Dinas Pertanian mengimbau masyarakat lebih teliti saat membeli hewan kurban, termasuk memastikan hewan memiliki surat keterangan kesehatan dan berada dalam kondisi prima.

“Belilah hewan yang sehat, geraknya lincah, matanya cerah, dan cukup umur sesuai syariat Islam,” pungkas Shoti’ah. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp