“Setelah kami lakukan pengecekan, sampah dari mal, hotel, maupun tempat wisata tidak menunjukkan perubahan berarti. Artinya, penurunan volume sampah lebih banyak berasal dari sektor rumah tangga,” katanya.
Glory menambahkan, komposisi sampah yang paling banyak masuk ke TPA Jatibarang masih di dominasi sampah organik atau sisa makanan. Karena itu, ia menilai upaya pengurangan sampah harus mulai dari rumah.
DLH terus mengajak masyarakat membiasakan memilah sampah sejak dari sumbernya. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos. Sedangkan sampah anorganik dapat di salurkan ke bank sampah agar memiliki nilai ekonomi dan tidak seluruhnya berakhir di TPA.
“Kami berharap tren penurunan ini tidak berhenti setelah libur sekolah usai. Budaya memilah dan mengolah sampah harus menjadi kebiasaan masyarakat sehingga beban TPA Jatibarang dapat terus berkurang,” tegas Glory.
Ia juga mendorong peran keluarga, kelompok PKK, serta komunitas lingkungan untuk semakin aktif mengedukasi masyarakat mengenai pengelolaan sampah berbasis rumah tangga.
“Kalau kebiasaan memilah sampah bisa berjalan secara konsisten, dampaknya tidak hanya mengurangi volume sampah. Tetapi juga menjaga kualitas lingkungan dan memperpanjang usia layanan TPA Jatibarang,” pungkasnya. (*)





