BLORA, beritajateng.tv – Ancaman tanah longsor terus menghantui warga Dukuh Lukbang, RT 04 RW 02, Desa Puledagel, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora.
Longsoran di bantaran anak Sungai Lusi dilaporkan semakin meluas dan telah mendekati permukiman warga.
Sejumlah warga terpaksa mengungsi, namun seorang warga memilih bertahan karena keterbatasan ekonomi dan tidak memiliki tempat tujuan.
Longsor di lokasi tersebut terjadi secara bertahap dan telah berlangsung selama sekitar empat tahun terakhir.
Intensitas hujan yang tinggi selama sepekan terakhir memperparah kondisi tanah, hingga akhirnya longsoran menyentuh area pemukiman.
Salah satu warga terdampak, Yasir Mahmud, mengaku bagian dapur rumahnya sudah terkena longsor.
BACA JUGA: Tanah Longsor Dominasi Bencana di Semarang Sepanjang 2025, BPBD Catat 160 Kejadian
Meski demikian, ia belum bisa pindah karena tidak memiliki lahan maupun dana untuk membangun rumah di tempat lain.
“Dapur sudah kena, tapi saya bingung mau pindah ke mana. Kalau pindah kan butuh biaya,” ujar Yasir, Jum’at, 23 Januari 2026.
Menurut Yasir, hingga saat ini terdapat empat rumah yang terdampak longsor. Tiga di antaranya merupakan milik saudara dekatnya, sementara satu rumah lainnya adalah miliknya sendiri.
Ia berharap pemerintah segera melakukan penanganan agar longsor tidak semakin meluas dan ia tidak harus meninggalkan rumah yang telah ditempati bersama keluarga.
Namun demikian, Yasir menyatakan siap direlokasi apabila pemerintah desa dapat memfasilitasi lahan untuk tempat tinggal baru.
Sementara itu, Sekretaris Desa Puledagel, Bayani, menjelaskan bahwa pemerintah desa telah melakukan berbagai upaya penanganan sementara, salah satunya dengan memasang bambu penahan di lokasi rawan longsor.
Bayani menambahkan, penanganan juga sempat terlaksana melalui kerja bakti bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), serta unsur Forkopimda.
BACA JUGA: Bank Jateng Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir dan Tanah Longsor Kabupaten Pekalongan
Namun, upaya tersebut belum mampu menghentikan pergerakan tanah.
“Tiga warga yang terdampak sudah pindah karena memiliki tanah sendiri di lokasi lain. Sementara satu warga yang belum pindah karena terkendala lahan, desa siap memfasilitasi,” kata Bayani.
Hingga kini, warga berharap adanya penanganan permanen dari pemerintah agar ancaman longsor di bantaran Sungai Lusi tidak terus berulang dan membahayakan keselamatan warga. (*)
Editor: Farah Nazila





