Ada jalan lingkungan yang berjarak sekitar 50 meter dari titik longsor juga mulai retak-retak. Demikian haknya lahan-lahan tanaman di sekitarnya juga sudah mengalami rekahan.
Artinya, potensi untuk terus menggerus dan meluas ke arah barat (pemukiman warga) semakin besar. “Kondisi seperti ini belum ada upaya- upaya apa pun untuk mengantisipasi agar longsor tidak semakin meluas,” tambahnya.
Wisnu juga menegaskan, terkait dengan penanganan longsor di Desa Kalongan ini butuh kehadiran pemerintah untuk menjawab kekhawatiran warga. Selain itu ancamannya juga sudah di depan mata.
Dari kegiatan peninjauan ini, Komisi C juga sudah mendapatkan masukan jika pemerintah telah menyiapkan siteplan lokasi untuk hunian sementara (huntara) di lingkungan Dusun Dampu, juga di wilayah Desa Kalongan.
“Tetapi kalau longsor yang masih terjadi dan terus meluas ini tidak disikapi dampaknya juga tidak kalah ngeri, akan banyak lagi warga sekitar lokasi yang terdampak,” tegasnya.
Hal ini diamini oleh anggota Komisi C DPRD Kabupaten Semarang, Gunawan Tri Rahmadi. Menurutnya, saat ini sebagian warga pemilik lahan di sekitar lokasi juga sudah kehilangan aset berupa kebun dan lahan mereka.
BACA JUGA: Jembatan Putus Gegara Longsor, 800 Jiwa Warga Desa Duren Semarang Sempat Terisolasi
Karena sebagian telah tergerus oleh pergerakan tanah dan longsor yang semakin meluas. Di satu sisi tanpa ada upaya untuk menanggulangi potensi kerusakan lingkungan yang lebih besar tidak bisa dihindari.
Karena tanah longsor ini sudah menghancurkan dan memutus jalan utama alternatif Ungaran, Kabupaten Semarang dengan Mranggen, Kabupaten Demak.
“Sehingga Pemkab Semarang harus mengalihkan ruas jalan penghubung antar daerah yang terdampak tersebut ke titik lain yang relatif lebih aman dari ancaman longsor,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





